ulama kyai NU trenggalek

Kira-kira dua kilometer arah utara pertigaan Ngetal, Kecamatan Pogalan, terdapat satu pesantren salaf yang familiar di Kabupaten Trenggalek. Orang-orang menyebutnya Pondok Al-Anwar.

Pondok Al-Anwar, tepatnya, terletak di Dusun Ceme, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Menurut Ustaz Kholiq (26/5), salah satu pengasuh pesantren, saat ini tidak kurang dari 450 santri, baik laki-laki maupun perempuan, yang mondok di Pondok Al-Anwar. Santriwan dan santriwati tersebut, selain dari Trenggalek, juga banyak yang berasal dari kabupaten/kota lain, seperti Pacitan, Ponorogo, Tulungagung, dan sekitarnya. Bahkan tidak sedikit pula yang berasal dari Sumatra dan Kalimantan.

Kebanyakan santri Al-Anwar berusia sekolah. Mulai dari tingkat dasar, tingkat menengah, hingga kuliah. Pesantren sendiri juga memiliki lembaga pendidikan SMP dan MA Sunan Kalijogo, guna memfasilitasi kebutuhan pendidikan umum bagi santri.

Pesantren Al-Anwar didirikan oleh Kiai Ghufron Syamsuri—Mustasyar PCNU Trenggalek sekarang—pada tahun 1992. Bersama ustaz dan belasan santrinya waktu itu, Kiai Ghufron yang merupakan alumnus Lirboyo bergotong royong mendirikan sebuah madrasah.

Upaya mendirikan madrasah tersebut sangat tidak mudah. Setiap hari, Kiai Ghufron bersama para ustaz dan santri—yang masih dalam hitungan jari—mengumpulkan pasir dan koral dari sungai sebagai bahan material untuk membangun gedung madrasah. Hal itu karena langgar yang sudah ada semakin tidak muat untuk menampung santri yang jumlahnya terus bertambah.

Melalui perjuangan panjang dan tak kenal lelah, akhirnya satu unit gedung madrasah berhasil didirikan tepat di sebelah langgar. Madrasah itulah yang menjadi cikal bakal Pesantren Al-Anwar sekarang, yang mana setelah hampir 30 tahun berlalu, memiliki sejumlah unit asrama, gedung madrasah, hingga sejumlah lembaga pendidikan, baik yang formal maupun non-formal. Tepat seperti yang diyakini Prof. Mujamil Qomar—dalam Bashori Shanhaji (2016)—bahwa cikal bakal pesantren berasal dari pengajian di langgar atau surau.

Tapi mengapa pesantren tersebut dinamakan Al-Anwar?

Mengapa Dinamakan Al-Anwar?

Sebelum berdiri madrasah pada 1992, Kiai Ghufron mengajar para santrinya di langgar atau musala kecil yang sudah terlebih dahulu berdiri—bahkan menurut Ustaz Kholiq, pada masa pendudukan Nipon langgar tersebut sudah berdiri.

Langgar tersebut, bertahun-tahun sebelumnya menjadi tempat mujahadah jamaah tarekat Syadziliyah desa Ngadirenggo. Dua kali dalam seminggu, yakni tiap malam Selasa dan malam Jumat, puluhan warga desa yang menjadi jamaah Syadziliyah melakukan amalan rutin di langgar tersebut. Bahkan tiap selapan atau 35 hari sekali, pada waktu khususiyah, jamaah datang dari berbagai kecamatan yang jumlahnya mencapai ratusan orang, sehingga meluber ke jalan-jalan desa.

Mereka, jamaah tarekat tersebut, dipimpin dan diasuh oleh seorang kiai spiritual yang bernama Mbah Anwar. Nah, dari nama beliaulah, Pondok Al-Anwar dinamakan.

Mengenal Sekilas Sosok Mbah Anwar

Mbah Anwar merupakan santri dari KH. Mustaqiem bin Husain, pendiri Pondok PETA, Kabupaten Tulungagung. Beliau berasal dari Wajak, Kecamatan Boyolangu(**), Tulungagung. Selulus nyantri di PETA, Mbah Anwar menikah dengan Nyai Siti Mutmainah, putri dari Mbah Tarwy bin Hasan, dan langsung menetap di rumah mertuanya tersebut di Dusun Ceme, Desa Ngadirenggo—Kabupaten Trenggalek.

Setelah menikah dengan Nyai Mutmainah, Mbah Anwar diminta untuk membantu mertuanya, Mbah Hasan, dalam mengopeni langgar. Pada gilirannya, atas mandat dari Kiai Mustaqiem, Mbah Anwar memimpin (baca: menjadi koordinator) jamaah tarekat Syadziliyah desa Ngadirenggo dan desa-desa di sekitarnya.

Semasa hidupnya, Mbah Anwar menjadi rujukan masyarakat luas, baik dalam hal “laku ati” atau spiritual maupun berbagai permasalahan keseharian masyarakat. Banyak warga yang sowan kepada beliau guna mengadukan persoalan hidupnya. Banyak pula yang meminta doa untuk penyakit yang sedang diderita, mulai dari penyakit ringan hingga berat. Dan atas izin Allah Swt, semua persoalan dan penyakit tersebut dapat terselesaikan setelah memperoleh suwuk dari Mbah Anwar.

Apa yang diikhtiarkan oleh Mbah Anwar tersebut merupakan manifestasi pemikiran Kiai Abdul Jalil bin Mustaqiem yang masyhur, bahwa seorang pelaku tarekat tidak cukup hanya membaca berbagai aurad, namun juga harus peka terhadap persoalan di sekitarnya. Beliau juga mengkhidmati peran sebagai seorang kiai—sebagaimana dikemukakan Kiai Saifuddin Zuhri dalam Berangkat Dari Pesantren (LKiS, 2013)—bahwa selain membimbing dalam hal agama, sosok kiai juga membimbing pertumbuhan akhlak masyarakat dalam kancah pergaulan hidup dengan sesama penduduk desa.

Dalam kehidupan sehari-hari, Mbah Anwar merupakan pribadi yang sederhana (asketik), tawaduk, dan khumul (menghindari popularitas). Beliau memiliki kebiasaan yang nyentrik. Sehari-hari, ke mana pun dan di acara apa pun, termasuk ketika menerima tamu pun, Mbah Anwar hanya mengenakan kaos oblong. Meskipun saat itu membawa pakaian, namun pakaian tersebut hanya disampirkan di pundak.

Mbah Anwar pernah mengalami jadzab untuk beberapa lama. Dalam kondisi lepas kesadarannya sebagai manusia itu, beliau oleh Allah Swt dibukakan mata batinnya sehingga mampu mengetahui pikiran dan hati orang lain. Pernah ketika seseorang sedang salat di langgar, beliau malah mencibir, “Wong salat kok matun! (Di tengah-tengah salat kok memikirkan tanaman padinya—tidak fokus menghadap Allah Swt!)”

Lebih dari itu, Mbah Anwar juga diperlihatkan sisi buruk dan aib orang lain. Hal ini menjadikan beliau uring-uringan (mencemooh dan memaki-maki) terhadap siapapun yang ada di hadapannya. Kondisi majdzub tersebut beliau alami hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai akhirnya, Kiai Abdul Jalil bin Mustaqim, mursyid PETA saat itu, turun tangan setelah mendapat laporan dari kolega Mbah Anwar yang juga sesama santri PETA.

Pada 1992, ketika Kiai Ghufron mulai merintis madrasah, Mbah Anwar memberikan dukungan dan back up spiritual melalui tirakat dan doa. Hingga suatu hari, Mbah Anwar berujar: “Langgar kene enek dampar lan lentera.

Isyarat tersebut menjadi kenyataan. Beberapa tahun setelahnya, madrasah yang semula bertempat di sebuah langgar dan bangunan kecil, sekarang menjelma menjadi pesantren yang besar dengan ratusan santri serta sejumlah kompleks gedung asrama, madrasah dan juga mengelola beberapa lembaga pendidikan formal dan nonformal.

Mbah Anwar wafat pada tahun 1997. Jasad beliau dikebumikan di pemakaman umum Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan—terletak di sebelah barat pertigaan Ngetal.

Masih banyak keteladanan dari pribadi Mbah Anwar—termasuk informasi dan data yang perlu diperdalam—yang kiranya penting untuk diketahui dan dijadikan inspirasi perjuangan bagi generasi setelahnya. Di antaranya mengenai khidmah beliau di Nahdlatul Ulama, dan juga Porsigal (Pendidikan Olah Raga Silat Indah Garuda Loncat) yang mana beliau merupakan salah satu sesepuh dan mujiz—pemberi ijazah amalan—di Kabupaten Trenggalek. Insyaallah akan ditulis di kesempatan selanjutnya.

Kepada beliau, moyang, dan segenap keturunan yang meneruskan perjuangan beliau, Alfatihah. (*)

(**) Sebelumnya tertulis Kalidawir.

* Androw Dzulfikar, penggiat Khazanah Ulama Kabupaten Trenggalek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Dewi Yukha Nida, Qari Internasional dari Trenggalek

Ning Nida, demikian ia biasa dipanggil. Sapaan “Ning” kepadanya tidaklah berlebihan. Bukan…

Kiai Siradj, Jejaring Ulama Nusantara di Makkah dari Trenggalek

Oleh: Ustadz Wasihus Sunani Ali Asrori*   Khazanah – Suatu malam menjelang…