Oleh: Misbahus Surur*

Lewat buku Babad Sewulan, Muklisina Lahudin menulis sejarah leluhurnya menggunakan pelacakan silsilah keluarga. Buku ini memberikan banyak informasi kepada kita mengenai cikal bakal pesantren dan jalur nasab para kiai di pedalaman Jawa (abad 17–19) yang satu sama lain saling terhubung. Entah jalinan itu mulanya diawali oleh relasi kiai-santri atau disebabkan oleh hubungan perkawinan: mertua-menantu.

Buku ini diikhtiarkan untuk melacak satu figur berpengaruh, Kiai Bagus Harun, pendiri perdikan dan pesantren Sewulan, Madiun. Juga untuk menguak ajaran Ki Ageng Basyariyah, nama lain Bagus Harun, terutama terkait tarekat Syatariyah.

Dalam penelusuran silsilah itu, buku ini bersinggungan dengan banyak tokoh besar lain, nama-nama lokasi masyhur, peristiwa-peristiwa tonggak, hingga cerita babad beberapa pesantren di pedalaman Jawa.

Seperti fragmen pertemuan Pangeran Mangkubumi, putra Ki Ageng Pandanaran, dengan Sunan Kalijaga, yang menyadarkannya supaya menjauhi sifat rakus dan hidup zuhud. Pangeran Mangkubumi lantas menetap di Bayat sembari mendirikan tempat pengajaran agama—kelak dikenal sebagai Pesantren Bayat. Sementara Mangkubumi sendiri dikenal sebagai Sunan Bayat.

Dalam mengelola pesantren, Sunan Bayat dibantu putranya, Pangeran Sumendhi, yang entah oleh sebab apa, tak dijelaskan di buku, kelak bertetirah ke Ponorogo. Di Ponorogo sekitar tahun 1600-an, Pangeran Sumendhi mendirikan sebuah masjid, yang dikenal sebagai Masjid Setono. Di masa kini, selain Masjid Ki Ageng Mirah dan Masjid Jami Batoro Kathong, Masjid Setono menjadi salah satu masjid tertua di Ponorogo.

Waktu berganti, Kiai Donopuro, salah seorang keturunan Pangeran Sumendhi, mendirikan pesantren di Setono (Ponorogo). Ia mengajarkan agama Islam di lokasi tersebut. Pendidikan agama yang diajarkan Kiai Donopuro berfondasi pada ajaran Sunan Drajat: berilah tongkat kepada orang yang buta, berilah makan kepada orang yang lapar, berilah payung kepada orang yang kehujanan, dan berilah pakaian kepada orang yang telanjang (halaman 61–64).

Pengajaran di Setono asuhan Kiai Donopuro menarik minat Kiai Anom Besari untuk memondokkan kedua anaknya, Muhammad Besari dan Nur Shodiq. Setamat mondok, kedua orang kakak beradik, di tahun 1721, melakukan babad alas di daerah selatan Setono, kelak dikenal sebagai Tegalsari.

Pertengahan abad 18, Muhammad Besari (kakek Kiai Hasan Besari) mendirikan Pesantren Gebang Tinatar. Salah satu pesantren legendaris, yang menjadi kawah candradimuka banyak para kiai dan pujangga keraton Mataram di masa depan (halaman 69–72).

Lalu, siapa Bagus Harun yang menjadi pangkal pembicaraan utama buku ini? Sosok karismatik berdarah ningrat dan wali—dari pihak ayah dan ibu—tak lain putra Ki Ageng Prongkot (Ki Ageng Nolojoyo), seorang Adipati Sumoroto, Ponorogo. Pada pertengahan abad 18, Bagus Harun juga mondok di Tegalsari. Karena sikap tawaduk dan kecerdasannya, ia menjadi santri kinasih Kiai Muhammad Besari. Bahkan diangkat menjadi menantu.

Peran besar Bagus Harun adalah ketika diutus Kiai Muhammad Besari menjadi pemimpin laskar santri dalam peristiwa besar Geger Pacinan (1740–1743). Ia ikut membantu Pakubuwono II mengusir Sunan Kuning dan bala tentara Tionghoa dari Keraton Kartasura. Kemudian, Pakubuwono II menganugerahi Desa Tegalsari dan Desa Sewulan, masing-masing sebagai desa perdikan.

Meski buku ini tampak fokus membabar Sewulan, penulis banyak merunut silsilah keluarga (nasab) para kiai dan jejaring pesantren di pedalaman Jawa di masa awal, terutama di abad 18 hingga 19, serta bagaimana jalinan kekerabatan dunia pesantren (kiai-santri) dan keraton (kebangsawanan).

Informasi di buku ini, misalnya, bisa memperkaya penjelasan Nancy K. Florida dalam buku terkait tradisi historiografi Jawa berjudul Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang. Di dalam buku tersebut Nancy pernah mengatakan bahwa pesantren dan keraton memang terhubung erat abad 18–19.

Bagaimana hubungan keraton dan dunia pesantren itu? Antara lain—yang juga diurai dalam buku ini—bahwa sebagian besar kiai pesantren di pedalaman ternyata masih keturunan raja (berdarah biru) dan bernasab wali.

Sebagian mereka punya garis keturunan dari keraton Mataram, Pajang, Giri, Demak, bahkan Majapahit. Itulah di antara alasan dunia pesantren bisa punya hubungan yang kukuh dengan keraton.

Dan, gambaran terbaik atas informasi tersebut ada pada sejarah silsilah Kiai Bagus Harun sendiri. Selain seorang santri dan kiai (keturunan wali), Bagus Harun punya nasab yang tersambung hingga, antara lain, ke pendiri Mataram dan Giri Kedhaton.

Kita juga bisa merunut jejaring kiai (sanad keilmuan) dan pesantren di pedalaman Jawa lewat buku ini: sebut saja Pesantren Bayat (Klaten), Setono dan Tegalsari (Ponorogo), Pesantren Tremas (Pacitan), Tawangsari (Tulungagung), hingga pesantren tua lainnya di beberapa titik di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur. (*)

Judul buku: Babad Sewulan: Jejak dan Ajaran Bagus Harun

Penulis: Muklisina Lahudin

Penerbit: Penerbit Quantum, Jogjakarta

Cetakan: Pertama, Maret 2021

Tebal: xxviii + 276 halaman

ISBN: 978-602-5908-37-8

*Misbahus Surur: Dosen Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang dan penulis buku Kronik Pedalaman (2020); pengurus PC LTN NU Trenggalek.

Tulisan ini pernah dimuat di JawaPos.com tanggal 27 Juni 2021 dengan judul Bagus Harun dan Jejaring Pesantren di Jawa

You May Also Like

Dewi Yukha Nida, Qari Internasional dari Trenggalek

Ning Nida, demikian ia biasa dipanggil. Sapaan “Ning” kepadanya tidaklah berlebihan. Bukan…

Mengenal Lebih Dekat Ketua PCNU Trenggalek KH. Fatchulloh Sholeh (Gus Loh)

KH. Muhammad Fatchulloh Sholeh adalah Ketua Tanfidziyah PCNU kabupaten Trenggalek. Di periode…

Sejarah Tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek: Dari Wali Songo hingga Mbah Mesir

Tradisi kupatan merupakan akulturasi budaya yang dilakukan oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Tradisi kupatan yang sebelumnya adalah simbol yang dikenal

Sosok Mbah Anwar, Cikal Bakal Pondok Al-Anwar Ngadirenggo

Sebelum berdiri madrasah pada 1992, Kiai Ghufron mengajar para santrinya di langgar atau musala kecil yang sudah terlebih dahulu berdiri.