Oleh : Ust. Afrizal el-Adzim Syahputra, Lc., MA

nuansa wahabi dibalik gerakan perang padri nutrenggalek penasantriid
Sumber ilustrasi: penasantri.id

Kemunculan gerakan Salafi-Wahabi di Indonesia diawali dengan kembalinya beberapa pemuda Sumatera Barat yang pergi haji sekaligus menuntut ilmu di Kerajaan Arab Saudi pada awal abad ke-19, yang banyak dipengaruhi oleh ide dan gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di kawasan Jazirah Arabia.

Pemuda itu adalah Haji Miskin, Haji Abdurrahman, dan Haji Muhammad Arif. Mereka terpesona dengan ideologi Wahabi yang mereka pelajari selama di sana, sehingga mereka menyebarkan ideologi ini ketika mereka tiba di tanah air. Inilah gerakan Salafy pertama di tanah air yang kemudian lebih dikenal dengan gerakan kaum Padri, yang salah satu tokoh utamanya adalah Tuanku Imam Bonjol.

Dalam sejarah yang pernah kita pelajari, perang Padri dikenal sebagai perang melawan penjajah Belanda di daerah Sumatera Barat. Akan tetapi, sisi kekerasan kelompok itu terhadap sesama muslim tidak pernah terungkap. Padahal, perang Padri sesungguhnya adalah peperangan sesama muslim yang mengatasnamakan pemurnian akidah.

“Padahal, perang Padri sesungguhnya adalah peperangan sesama muslim yang mengatasnamakan pemurnian akidah.”

Gerakan Padri ini memvonis sesat tarekat Syatariyyah dan tarekat–tarekat tasawuf pada umumnya yang telah hadir di Minangkabau beberapa abad sebelumnya. Gerakan ini menganggap bahwa dalam tarekat terdapat takhayul, bid’ah, khurafat yang tidak bisa ditoleransi, bahkan jika perlu diperangi.

Selain mengikuti kegemaran Wahabi yang memusyrikkan, mengkafirkan, serta memurtadkan semua ulama yang sikapnya moderat, seperti Tuanku nan Tuo dan Faqih Shaghir, mereka juga memberlakukan beberapa hukum yang aneh dalam Islam. Contohnya kewajiban memelihara jenggot dan denda 2 suku (setara satu gulden) bagi yang mencukurnya; denda 3 suku bagi wanita yang tidak menutup sekujur tubuhnya kecuali mata dan tangan; denda 5 suku bagi mereka yang meninggalkan shalat fardu untuk pertama kali, dan dihukum mati untuk berikutnya.

Mereka juga melegalkan perbudakan, dan konon, Tuanku Imam Bonjol memiliki 70 orang budak laki-laki dan perempuan. Budak-budak ini sebagian merupakan hasil rampasan perang yang mereka lancarkan kepada sesama Muslim karena dianggap kafir.

Tindak kekerasan lain yang dilakukan Padri terhadap sesama muslim di Minangkabau, antara lain penyerangan terhadap istana Pagaruyung pada tahun 1809.

Serangan ini diawali oleh tuduhan yang dilakukan oleh Tuanku Lelo, salah satu tokoh Padri, bahwa beberapa keluarga raja seperti Tuanku Rajo Naro, Tuanku Di Talang, dan seorang anak raja lainnya, tidak menjalankan akidah Islam secara benar dan dianggap kafir, sehingga harus dibunuh. Pembantaian massal pun dilakukan terhadap para anggota keluarga dan pembantu raja, termasuk para penghulu yang dekat dengan istana.

Akhirnya, gerakan Padri lambat laun berakhir, di samping karena faktor penjajahan, juga karena faktor lingkungan, tradisi, dan budaya bangsa Indonesia yang tidak sesuai dengan mereka. Akan tetapi, berakhirnya Gerakan Padri tidak mengakhiri penyusupan Wahabi di Indonesia.

Pada masa Orde Baru, DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) yang didirikan tahun 1967, yang merupakan penjelmaan dari Masyumi, memberikan dana yang amat besar untuk membiayai studi para mahasiswa Indonesia belajar ke Timur Tengah, yang bersumber dari Wahabi. Ini terjadi pada dekade 1970-an ketika Indonesia mengalami krisis keuangan. Belakangan, alumninya dijadikan sebagai agen penyebaran ideologi Wahabi di Indonesia.

buku ilusi negara islam cover nutrenggalek

Berbeda dengan mereka, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari yang sempat menimba ilmu di wilayah Timur Tengah membawa pengaruh luar biasa pada saat mereka kembali ke Indonesia. Walaupun organisasi yang mereka gagas berbeda, keduanya tetap toleran dan saling menghormati, mengakui perbedaan sebagai keragaman dan kekayaan tradisi intelektual.

Hal ini sangat kontras dengan gerakan Padri yang digagas oleh Haji Miskin, Haji Abdurrahman, dan Haji Muhammad Arif. Pada saat mereka melaksanakan haji, virus Wahabi yang sudah menguasai kota Mekah menjangkit mereka bertiga. Virus Wahabi itu terbawa oleh mereka bertiga saat kembali ke tanah air dan memicu perang saudara sesama Muslim di tanah air.

 


Rujukan Utama: Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

4 comments
  1. Hello there, I do believe your web site may be having browser compatibility issues. Whenever I look at your site in Safari, it looks fine but when opening in IE, it has some overlapping issues. I just wanted to provide you with a quick heads up! Aside from that, wonderful site! Nell Noe Deming

  2. Hi there. I discovered your website by means of Google at the same time as looking for a comparable topic, your website got here up. It appears great. I have bookmarked it in my google bookmarks to come back then. Gusti Pieter Torto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Musim PPDB, Pesantren Jadi Salah Satu Rujukan Terbaik

Pesantren dapat menjadi pilihan karena ia sudah mengintegrasikan pendidikan modern dengan kurikulum pondok pesantren yang berbasis kitab kuning atau dirasah islamiyah KMI

10 Watak Wasathiyyah Nahdlatul Ulama

Oleh : Habib Wakidatul Ihtiar*   Nahdlatul Ulama (NU) adalah jam’iyah diniyyah-ijtima’iyah…

Siti dan Sayyidati: Adaptasi Islam dengan Budaya Lokal

Oleh: Misbahus Surur*    ESAI — Beberapa hari lalu secara tak sengaja saya…

Muslimah Berkarya, Muslimah Berdaya

Opini – Berstatus sebagai seorang muslimah berkarya, muslimah berdaya di era milenial ini memang dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam membentuk karakter yang