Pernikahan itu sakral. Allah Swt menyebutnya sebagai mitsaqan ghalidza alias perjanjian yang kokoh. Allah Swt menggunakan istilah ini hanya tiga kali di dalam al-Qur’an. Pertama, pada surat al-Ahzab ayat 7, di mana Allah mengikat perjanjian dengan Rasul Ulul Azmi: Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa alaihim assalam. Kedua, ketika Allah melakukan perjanjian dengan Bani Israil sebagaimana tercantum dalam surat an-Nisa ayat 154. Dan ketiga, ketika Allah menyebut perjanjian suami istri sebagai ikrar yang kokoh, dalam surat an-Nisa’ ayat 21.

KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, pada suatu kesempatan, menyebut bahwa laki-laki mendambakan pasangan yang sempurna. Sebaliknya, perempuan juga memimpikan pasangan yang sempurna. Namun seringkali keduanya lupa jika mereka diciptakan untuk saling menyempurnakan.

Pilar lain dalam membina rumah tangga yang maslahah terdapat pada surat ar-Rum ayat 21. Allah Swt berfirman:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَأَ يَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Ayat tersebut menyebut ada tiga pilar dalam membina rumah tangga, yaitu sakinah, mawaddah, dan ar-rahmah.

Sakinah, yang bermakna tenteram atau ayem, bisa dicapai dengan menciptakan suasana yang nyaman lahir dan batin di rumah. Sedangkan mawaddah, yang bermakna cinta, menurut ulama bisa dikukuhkan dengan tiga hal, yakni: al-mahabbah (cinta), an-nashihah (nasehat), dan as-shilah (memperkuat). Ketiganya disatupadukan dengan makna attabadul (timbal balik), sehingga bermaka saling mencintai, saling menasehati, dan memperkuat kesetiaan. Adapun pilar ar-rahmah yang artinya kasih sayang, pengejawantahannya ada pada pasangan dan buah hati.

Lima Bahasa Cinta (The Five Love Languages)

Gary Chapman dalam bukunya, The Five Love Languages, mengemukakan “Lima Bahasa Cinta” yang sangat tepat dijadikan unsur penunjang untuk mewujudkan pernikahan yang maslahah.

Banyak pasangan bertengkar karena watak yang berbeda. Banyak juga yang cekcok sebab cara pandang yang tidak sama dan tidak bisa memahami pasangannya. Maka “Lima Bahasa Cinta” ini setidaknya bisa mengharmoniskan kehidupan rumah tangga maupun me-refresh kehidupan suami istri yang mulai kaku, pasif, dan kehilangan sentuhan cintanya.

Pertama, words of affirmation (kata-kata positif atau pujian). Jika pasangan kita suka diberi pujian, kalimat cinta, dan taburan motivasi, artinya ia masuk kategori ini. Maka tidak ada salahnya bagi kita untuk memulai. Mungkin belum terbiasa dan kaku pada awalnya. Namun percayalah, jika terus-terusan digerojok dengan kalimat cinta, dia membalas hal yang sama.

Kalimat positif akan membuatnya merasa ada, dihargai sebagai pasangan, dan merasa dicintai. Faktor terakhir ini penting. Pada saat seseorang merasa dicintai, dia merasa nyaman. Kalimat “I love You”, “Kamu cantik sekali hari ini”, “Kamu tampak lebih tampan jika pakai baju ini”, atau “Enak sekali masakanmu!”, juga “Semoga pekerjaanmu hari ini lancar”, bagi sebagian orang tampak basa-basi, formal, dan biasa. Tapi bagi mereka yang memiliki kecenderungan pertama ini, niscaya bisa membuat saldo cinta terus bertambah.

Kedua, physical touch (sentuhan fisik). Jika kita sedang belanja di mal lantas pasangan merajuk minta digandeng tangannya, ini indikasi bahwa dia punya kesukaan sentuhan fisik. Misalanya juga ketika kita sedang duduk sendiri tiba-tiba pasangan memeluk dari belakang, atau dia minta dipijit.

Jangan malu memperlakukan pasangan dengan cara ini. Survei membuktikan, anak yang jarang dipeluk atau dielus akan memiliki emosi, perilaku, dan sikap sosial yang berbeda dibandingkan anak yang sejak kecil mendapatkan kasih sayang melalui sentuhan fisik. Jika kita suka sentuhan fisik, tak ada salahnya meminta pasangan melakukannya. Demikian pula sebaliknya.

Ketiga, quality time (menghabiskan waktu bersama). Jika anda tipikal ini, kebersamaan yang berkualitas menjadi prioritas. Ada banyak suami istri yang bertahun-tahun tinggal serumah, namun merasa tidak ada kecocokan lantaran tidak adanya waktu berkualitas untuk bercengkerama berdua, menghabiskan waktu bersama, atau rekreasi sekeluarga.

Tak perlu mengkhususkan waktu. Cukup ngobrol berdua dengan tema ngalorngidul, bersepeda bersama, atau nonton film bareng. Cara tersebut sudah cukup bagi pasangan dengan tipe ini untuk merasa dicintai. Mereka tidak berharap waktu khusus dengan kesan romantis. Tetapi didampingi pasangan dalam aktivitas sederhana sudah cukup baginya. Maka jika pasangan Anda bertipe ini, luangkan waktu untuk menikmati Me Time. Jangan mencari waktu luang, tetapi, sekali lagi, luangkan waktu!

Keempat, acts of service (tindakan/pelayanan). Pernahkah suatu ketika, seusai membantu pasangan dalam meringankan beban kesehariannya, tatapannya berbinar-binar dan senyumnya merekah? Jika iya, berarti pasangan kita masuk kategori ini. Dia merasa dicintai apabila pasangannya mau menyervis dalam urusannya.

Dalam kenyataan, ketika suami membantu istri dalam urusan domestik seperti membersihkan kamar mandi, mencuci atau menyetrika baju, menyapu halaman, dan lain sebagainya, maka istri merasa terbantu dan nyaman atas kepeduliannya. Sebaliknya, jika suami yang bertipe seperti ini, jiwa gentleman-nya merasa dihormati saat istri melakukan sesuatu yang tampak remeh. Misalnya membuatkan teh, memasakkan makanan spesial kesukaannya, menyiapkan sarung dan baju terbaik sebelum dia shalat Jumat, dan lainnya.

Kelima, gifts giving (memberi hadiah). Hadiah tidak berarti harus mahal. Sesuatu yang sederhana dan murah pun bisa, asal dikemas dengan baik. Atau bisa juga menghadiahkan kejutan dalam momen spesial kepada pasangan. Istri dengan tipe seperti ini suka jika suami dengan sengaja meninggalkan uang Rp 50 ribu di saku celana, yang seolah dia temukan saat mencuci atau menjemur celana tersebut. Contoh lain, dengan cara membelikan baju atau makanan kesukaannya. Sebaliknya, suami juga suka jika istri memberikan hadiah yang menunjang aktivitas kesehariannya.

Walhasil, rumah tangga bukan permainan ular tangga yang kompetitif. Sebaliknya, berumah tangga merupakan kehidupan yang kolaboratif. Saling mendukung, melengkapi, dan memahami. Dari situ akan lahir kebahagiaan.

Disadur dari status Facebook Ust. Dr. Rijal Mumazziq Z, yang disampaikan dalam sebuah acara resepsi pernikahan di Hotel Majapahit Surabaya; Sabtu, 25 Desember 2021.

(arkha)

You May Also Like

Amalan dan Doa Nisfu Sya’ban: Baca Surat Yasin 3x

Malam ini, Kamis malam Jumat tanggal 17 Maret 2022, adalah malam Nisfu…

Poin-Poin Kajian Buya Arrazy Hasyim PW Rijalul Ansor Jatim

Pengurus Wilayah (PW) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Jatim kembali…

Sejarah Diwajibkannya Puasa Ramadan Dalam Perspektif Asbabun Nuzul

Oleh: Ust. Afrizal el Adziem, Lc, MA* Sejarah puasa Ramadan tidak terlepas…

Siapa Yang Akan Disembelih: Ismail atau Ishaq? Kajian Tafsir al-Maraghi

Oleh :  Ustadz Afrizal El Adzim Syahputra, Lc., MA   Syariat kurban…