Warga mengadakan Sema’an Al Qur’an di Makam Umum Dusun Ngetal, Desa Ngetal pada Ahad (13/5) kemarin.

PogalanNyekar sudah menjadi tradisi umat muslim di Nusantara. Memanfaatkan momen menjelang Ramadhan, tradisi tersebut, umumnya diisi dengan membaca yasin, tahlil, dan doa oleh keluarga ahli waris, di makam leluhur masing-masing.

Namun ada yang berbeda di makam Dusun Ngetal, Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, Ahad (13/5) kemarin. Di makam yang terletak di Jalan Raya Ngetal tersebut, dilangsungkan sema’an Al Qur’an sejak pagi oleh warga setempat.

Dijadwalkan, Sema’an Al Qur’an bin nadzar dikhatamkan pada pk. 16.00 WIB. Kemudian dilanjutkan tahlilan bersama-sama warga yang mempunyai leluhur di makam ini.

“Tahlilannya ngumpul di sini (di tempat sema’an), baru setelah selesai, warga menuju ke makam (untuk nyekar, red),” kata Pamuji, panitia kegiatan, kepada nutrenggalek.or.id.

Dituturkan Pamuji, Sema’an Al Qur’an dimulai bakda subuh. Pembukaan sema’an dihadiri Kepala Desa, Kepala Dusun, BKTM, Bhabinsa, dan segenap tokoh masyarakat dan warga.

“Dari desa tetangga juga ada perangkat yang hadir. Karena memang makam ini juga digunakan oleh warga desa lainnya,” imbuh Ketua GP Ansor Ranting Ngetal itu.

Pengamatan nutrenggalek.or.id, tepat di pintu utama makam, dipasang satu set tenda untuk sema’an Al Qur’an. Satu set lagi dipasang di luar area makam, di sebelah barat pintu, yang digunakan untuk penerimaan tamu dan pengumpulan konsumsi. Dan tepat di barat tenda, terparkir satu unit pick up yang memuat sound system dan 5 unit speaker berukuran besar.

 

Dimulai dari Tahlilan dan Nyekar Bareng

Diceritakan Pamuji, mewakili Ketua Panitia, Erwin Winarno, yang menyambut tamu yang terus berdatangan, sema’an Al Qur’an di makam seluas 3 hektar ini mulai dilaksanakan mulai tahun ini. Sebelumnya, tahun 2017 kemarin, sudah diawali dengan tahlilan dan nyekar bareng.

Ratusan warga mengikuti tahlilan bareng setelah khataman Al Qur’an. Foto: Erwin Winarno.

“(Sema’an Al Qur’an ini) Berawal dari gremeng-gremeng warga lingkungan di mushola Amal Bhakti tahun lalu, yang menginginkan supaya semua ahli waris makam Dusun Ngetal bisa ngirim leluhur secara bersama-sama,” kata Pamuji.

Keinginan untuk kirim leluhur secara bersama-sama tersebut, masih menurut Pamuji, muncul karena latar belakang warga yang beragam. Ada yang paham cara kirim hidiyah ke leluhur, dan ada yang tidak.

“Lagipula, do’a yang dilakukan secara bersama-sama insyaallah langkung afdhal. Selain itu, dimaksudkan sebagai syiar agama,” kata Pamuji.

Dari situ, lanjut Pamuji, pada 2017 kemarin, warga sepakat bahwa pelaksanaan nyekar dilakukan secara bersama-sama, dan didahului dengan tahlilan bareng. Dan karena melibatkan warga banyak, maka pelaksanaannya dikoordinasikan bersama Perangkat Dusun.

“Alhamdulillah, tahun kemarin, peserta tahlilan bareng sudah 60% dari warga Dusun Ngetal… 200 lebih lah,” terang Pamuji menyebut jumlah.

 

Mulai Tahun ini digelar Sema’an Al Qur’an

Setelah tahlilan dan nyekar bareng dirasa berhasil, maka mulai tahun ini, warga memutuskan untuk menambah agenda sema’an Al Qur’an. Selain itu juga dibentuk panitia kegiatan.

“Karena skala diperbesar dan melibatkan orang banyak, maka mulai tahun ini dikoordinasikan dengan Pemerintah Desa, dan tiga pilar,” tutur Hariyanto, Kepala Dusun Ngetal, yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.

Di samping itu, lanjut Hariyanto, panitia kegiatan membuat surat undangan secara tertulis yang ditujukan kepada seluruh takmir dan pemangku masjid (kiai) dan musala se-Dusun Ngetal, tokoh agama dan tokoh masyarakat, serta kepala dusun lain yang warganya memakamkan leluhurnya di sini.

Surat yang mengetahui Kepala Desa tersebut, selain sebagai undangan, juga dimaksudkan agar memberitahukan kepada jama’ah atau warga lainnya. Ini karena makam tidak hanya digunakan oleh warga Dusun Ngetal, tetapi juga warga luar desa, seperti Desa Karangsoko, Sambirejo, Ngadirenggo, Wonocoyo, Bendorejo, Krandegan, dan Dusun Duwet.

Adapun fasilitas untuk kegiatan seperti tenda, sound system, hingga konsumsi, selain difasilitasi oleh pemerintah desa, juga berasal dari kesadaran warga.

Mboten ndamel biaya. Semua dari warga, termasuk konsumsi,” imbuh Pamuji.

 

Berkah bagi Penjual Kembang

Sema’an Al Qur’an dan tahlilan bareng tersebut juga membawa berkah bagi penjual kembang sekaran.

Murtilah dan penjual kembang lain baru menggelar dagangan hari ini di seberang makam, di sebelah utara jalan raya.

Murtilah, salah satu penjual kembang, kepada nutrenggalek.or.id mengaku, adanya tahlil bareng memudahkannya dalam melayani pembeli.

Malah sekéca, Mas. Pisan lèk nyepaki (kembang),” kata Murtilah.

Sebelum ada tahlilan bareng, aku Murtilah, ia dan penjual lainnya, jauh-jauh hari sudah membuka lapak. Begitu diadakan tahlilan bareng, semua penjual kembang baru berjualan pada hari itu. Namun pembelinya langsung banyak.

Jama’ah (mushola) niki wau nggih sampun diworo-woro, termasuk kula nggih dikabari Pak Erwin (ketua panitia, red) kèn dodolan,” pungkas Murtilah yang sudah empat tahun berjualan kembang di makam Ngetal.

(Androw Dzulfikar/Zein)

3 comments
  1. Thanks a lot for sharing this with all people you actually know what you’re speaking about!
    Bookmarked. Please additionally visit my website =). We could have a hyperlink exchange agreement among us

  2. Hi would you mind stating which blog platform you’re using?

    I’m looking to start my own blog soon but I’m having
    a tough time choosing between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal.
    The reason I ask is because your design and style seems different then most blogs and I’m looking
    for something unique. P.S Sorry for being off-topic
    but I had to ask!

  3. I am extremely impressed along with your writing skills as smartly as with the structure for your weblog.
    Is that this a paid topic or did you modify it your self?
    Anyway stay up the nice high quality writing, it is rare
    to look a great blog like this one nowadays..

Tinggalkan Balasan
You May Also Like

Sejarah Tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek: Dari Wali Songo hingga Mbah Mesir

Tradisi kupatan merupakan akulturasi budaya yang dilakukan oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Tradisi kupatan yang sebelumnya adalah simbol yang dikenal

Salalahuk, Sayup-Sayup Masih Terdengar di Trenggalek

  Trenggalek – Barangkali, pembaca, terutama generasi millenial, masih asing dengan istilah…

7 Ramadan, Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh Hasyim Asyari

    nutrenggalek.or.id – Tepat 75 tahun lalu di bulan yang suci…

Pagar Nusa Durenan Sahkan Warga Baru, Siap mewarnai Banom-Banom NU

nutrenggalek.or.id – Rabu (31/3) malam, Pimpinan Anak Cabang Pagar Nusa Durenan menyelenggarakan…