Ilustrasi: Sejumlah Ibu Nyai dan tokoh perempuan NU Trenggalek di acara Harlah Fatayat NU ke-35 pada tahun 1985.

Waktu itu awal tahun 1966. Rentetan peristiwa G30S sudah memasuki fase antiklimaks. Kehidupan sosio-politik masyarakat berangsur kembali normal. Suatu ketika, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Trenggalek mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara di Kertosono.

Di era tersebut—menurut catatan Hamid Wilis—Ketua Tanfidziyah PCNU Trenggalek dijabat oleh Abu Sofyan. Sedangkan Rois Syuriah dijabat Kiai Ahmad Mu’in.

Untuk memenuhi undangan tersebut, Ketua NU Trenggalek Abu Sofyan bersama Kiai Imam Machalli dan dua pengurus lainnya berangkat menuju Kertosono. Turut pula istri Kiai Machalli, Bu Nyai Mar, dalam rombongan tersebut. Berlima, mereka mengendarai mobil dinas berjenis sedan milik Bupati Trenggalek, dengan dikemudikan oleh sopir sehari-hari bupati.

Semua berlangsung normal seperti biasa mulai dari keberangkatan hingga di lokasi acara di Kertosono. Dan setelah acara usai, rombongan pun langsung pulang.

Tetapi di tengah perjalanan pulang, sebuah insiden mengerikan terjadi. Ketika melintasi kawasan kebun tebu Kali Telu, perbatasan Tulungagung-Trenggalek, tiba-tiba saja si sopir membuka pintu dan langsung melompat keluar. Mobil terus melaju sangat kencang tanpa ada yang mengemudikan. Sementara tak ada satu pun dari rombongan yang bisa mengendarai mobil.

Dalam situasi genting tersebut, Pak Abu beserta Kiai Machalli dan dua pengurus NU yang duduk di bangku belakang hanya bisa melafalkan kalimat thayyibah. Tidak ada yang mereka lakukan kecuali bertawakal atas apa pun takdir yang akan terjadi.

Beruntung, Bu Nyai Mar, yang sejak awal duduk di kursi depan, tetap tenang. Ia spontan bergeser ke kursi pengemudi. Tetapi karena sama sekali belum pernah mengemudikan mobil, yang ia lakukan hanya menjaga kemudi agar kendaraan lurus dan tetap berada di jalur jalan raya, sampai kendaraan berhenti dengan sendirinya.

Akhirnya, mobil tersebut berhenti. Semua penumpang turun dengan selamat. Aksi fantastis Bu Nyai Mar belum usai. Di saat para kiai masih semlengeren dengan apa yang baru saja terjadi, istri Kiai Machalli tersebut langsung mencari si sopir ke tempat melompat tadi. Tapi rupanya yang dicari sudah tidak ada.

Perasaan Bu Nyai Mar semakin tidak enak. Ia kemudian berdiri di tengah jalan. Bu Nyai Mar menghadang siapa pun yang lewat. Siapapun yang melintas ia tanyai: “Sampeyan Ansor apa bukan?” Harapan Bu Nyai Mar, ada anggota GP Ansor yang melintas. Sebab, ia memiliki firasat yang tidak baik sejak sebelum berangkat, khususnya kepada si sopir.

Sejak sebelum berangkat ke Kertosono, Bu Nyai Mar dan para kiai sebenarnya mengetahui bahwa si sopir sempat terlibat PKI. Terlebih, pejabat yang sehari-hari disopirinya, yakni Bupati Soetomo Boedikoentjahjo, adalah tokoh penting PKI di Trenggalek. Hanya saja, ketika berlangsung penumpasan PKI, Bupati Soetomo menghilang. Sedangkan sopirnya tidak dieksekusi setelah ia menyerahkan diri dan mengaku bertobat, kembali kepada agama dan Pancasila.

Kesediaan para kiai disopiri oleh eks PKI tersebut lantaran sebelum berangkat, yang bersangkutan bersumpah dan mengucap syahadat, sebagai bukti telah bertobat. Namun ternyata, pernyataan tobat dan syahadatnya sebatas di mulut saja. Ia, rupanya, masih memendam ambisi untuk menghabisi tokoh-tokoh NU. Menyopiri tokoh-tokoh NU, baginya, menjadi kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.

Upaya Bu Nyai Mar mencari bantuan tidak sia-sia. Ia menjumpai seorang anggota GP Ansor yang lewat. Menurut Kiai Ali Ridho—putra Kiai Machalli dengan Bu Nyai Mar—Bu Nyai lantas memintanya untuk menghubungi pengurus GP Ansor Gondang yang notabene Anak Cabang terdekat.

Tak berselang lama, situasi di Kalitelu gempar. Ratusan pemuda GP Ansor dari Gondang dan masyarakat sekitar berdatangan ke lokasi kejadian. Massa menjadi gemas demi mengetahui adanya percobaan pembunuhan terhadap Ketua NU Trenggalek dan para kiai. Apalagi pelakunya oleh seorang mantan PKI.

Massa lekas menyisir seluruh area kebun tebu. Dan benar, si sopir ditemukan bersembunyi di antara tanaman tebu. Tanpa dikomando, massa yang marah pun segera membunuh sopir yang hendak mencelakakan rombongan kiai tersebut.

Peristiwa menggemparkan tersebut, masih menurut Kiai Ali, menjadi headline news di sejumlah surat kabar. Selama beberapa hari juga, insiden itu menjadi bahan perbincangan di mana-mana.

Ketenangan, kesigapan, serta keberanian Bu Nyai Mar, atas izin dari Allah Swt, mampu menyelamatkan para kiai pengurus NU Trenggalek dari percobaan pembunuhan. Di tengah kepanikan lantaran sopir melompat keluar, laksana mukjizat, ia mampu mengendalikan diri dan mengambil alih kemudi. Ia juga dengan gagah berani menghentikan tiap kendaraan yang melintas guna dimintai bantuan.

Siapa sebenarnya sosok perempuan keramat tersebut?

Mengenal Sekilas Bu Nyai Mar

Nama lengkapnya Siti Maryam. Orang-orang memanggilnya Bu Nyai Mar. Ia istri dari Kiai Imam Machalli. Sang suami, kiai Machalli, adalah pendiri dan pengasuh pesantren Subulus Salam, Gebang, desa Melis, kecamatan Gandusari, kabupaten Trenggalek. Kiai Machalli adalah aktivis NU sejak muda, dan menjabat Ketua Tanfidziyah PCNU Trenggalek selama dua periode: tahun 1975–1985.

Bu Nyai Mar adalah putri bungsu dari Kiai Abdullah Umar Kedunglurah. Kiai Abdullah merupakan pendiri Pesantren Attaqwa Kedunglurah dan mursyid tarekat Naqsabandiyah-Khalidiyah. Kiai Abdullah adalah santri Syaikhona Khalil Bangkalan, seangkatan dengan Kiai Abdul Karim Lirboyo dan Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Beliau merupakan salah satu simpul jejaring sanad pesantren di Trenggalek.

Putra Kiai Abdullah lainnya, sekaligus kakak dari Bu Nyai Mar, antara lain Kiai Sholeh dan Kiai Siradj. Kiai Siradj menjadi guru (ulama) kenamaan di Mekah. Sementara Kiai Sholeh merupakan ayahanda dari Gus Loh, Ketua Tanfidziyah PCNU Trenggalek saat ini (2021). Dengan demikian, Bu Nyai Mar terhitung bibi (Jw. Bulik) dari Gus Loh.

Banyak kisah keramat dari Bu Nyai Mar yang masyhur di masyarakat. Misalnya, kisah yang dituturkan salah seorang tetangganya. Saat Bu Nyai hendak memasak di perapian (Jw. cethik geni) namun kehabisan korek api, ia meminta api ke para tetangga yang kebetulan juga sedang memasak. Tanpa ragu, ia meraup begitu saja bara api yang ada di perapian dengan tangan kosong. Kejadian seperti itu tidak hanya sekali-dua kali ia lakukan.

Pada awal dekade 1970-an, Orde Baru mulai memberlakukan kebijakan deparpolisasi dan Golkarisasi. Partai NU dipaksa untuk berfusi ke PPP. Aktivis dan pengurusnya banyak yang ditekan, bahkan diwajibkan, untuk masuk ke Golkar. Era tersebut merupakan awal kelam bagi organisasi NU semasa Orde Baru. Banyak aktivis NU yang menjabat Kepala Desa atau Lurah, diberhentikan dengan tidak hormat gara-gara menolak bergabung Golkar. Di antara Lurah yang diberhentikan dengan tidak hormat tersebut adalah Kiai Machalli, suami Bu Nyai Mar.

Bu Nyai Mar yang waktu itu aktif di Muslimat NU pun demikian. Suatu ketika, ia dipanggil untuk menghadap ke Koramil. Ternyata di sana ia ditekan untuk berhenti dari Muslimat NU, dan dipaksa masuk Golkar. Akan tetapi, sama dengan suaminya, Bu Nyai Mar tidak gentar menghadapi intimidasi dari alat penguasa tersebut. Ia dengan tegas menolak, dan siap menghadapi apapun konsekuensinya. “Daripada metu saka Muslimat, luwih apik aku dipathoki loro,” kenang Kiai Ali menirukan jawaban tegas ibundanya.

Bu Nyai Mar merupakan salah satu tokoh perempuan penggerak NU di eranya. Di samping itu, ia juga istikamah mengasuh para santriwati di Pesantren Subulus Salam Gebang, bersama sang suami. (*)

Androw Dzulfikar: penikmat kesejarahan kabupaten Trenggalek; Wakil Ketua PC GP Ansor Trenggalek; dan Sekretaris LTN NU Trenggalek.
You May Also Like

Dewi Yukha Nida, Qari Internasional dari Trenggalek

Ning Nida, demikian ia biasa dipanggil. Sapaan “Ning” kepadanya tidaklah berlebihan. Bukan…

Sosok Mbah Anwar, Cikal Bakal Pondok Al-Anwar Ngadirenggo

Sebelum berdiri madrasah pada 1992, Kiai Ghufron mengajar para santrinya di langgar atau musala kecil yang sudah terlebih dahulu berdiri.

Sejarah Tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek: Dari Wali Songo hingga Mbah Mesir

Tradisi kupatan merupakan akulturasi budaya yang dilakukan oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Tradisi kupatan yang sebelumnya adalah simbol yang dikenal

Mengenal Lebih Dekat Ketua PCNU Trenggalek KH. Fatchulloh Sholeh (Gus Loh)

KH. Muhammad Fatchulloh Sholeh adalah Ketua Tanfidziyah PCNU kabupaten Trenggalek. Di periode…