Oleh: Afrizal El Adzim Syahputra

Maulid secara bahasa berasal dari kata “walada-yalidu” (ولد – يلد) yang berarti lahir. Sedangkan Nabi berasal dari kata al-naba yg berarti berita. Dalam dialek bahasa Jawa, ada istilah “muludan” yang artinya hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Kemudian muncul pertanyaan, manakah yang benar: maulid atau maulud?

Menurut KH. Aqil Siraj, ketika sebagian orang menyebut maulid nabi, maka yang dihormati adalah hari kelahirannya. Sementara ketika menyebut maulud, berarti termasuk isim maf’ul. Dengan demikian, yang diperingati adalah bayi yang dilahirkan, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad saw. Jadi penyebutan maulud dan maulid itu sama-sama benar.

Dalam pembahasan ini, yang dimkasud dengan Maulid Nabi saw adalah peringatan kelahiran Nabi saw sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran beliau di dunia ini. Peringatan ini erat kaitannya dengan sosok Abu Lahab yang namanya diabadikan oleh Allah Swt dalam al-Qur’an sebagai bagian dari orang musyrik yang dipastikan mendapatkan siksa neraka. Nama ini dapat dilihat dalam Q.S. al-Lahab: 1-5. Ia adalah salah satu paman Rasul saw sekaligus musuh bebuyutan baginya. Ia sangat benci kepada Rasul saw karena telah membawa akidah baru yang bertentangan dengan akidahnya.

Abu Lahab adalah gelar dari Abdul ‘Uzza ibn Abdul Muthalib. Kata Lahab berarti kobaran api yang menyala dan telah tidak memiliki asap lagi. Menurut satu pendapat, ia digelari dengan Abu Lahab sejak masa Jahiliah karena kegagahan dan kecemerlangan wajahnya. Ada juga yang berpendapat bahwa gelar tersebut mengisyaratkan bahwa dia akan terbakar di neraka Jahanam yang apinya berkobar-kobar.

Kata Abu juga biasa digunakan dalam arti seseorang yang selalu menyertai sesuatu yang disebut sesudahnya. Dalam hal ini, kata Abu Lahab mengisyaratkan bahwa lahab atau kobaran api selalu menyertainya.

Suatu ketika, sesaat sebelum Rasul saw lahir, Abu Lahab sebagai pemimpin orang kafir berpikir keras memikirkan jenis kelamin keponakannya itu. Dia berharap laki-laki, bukan perempuan. Sebab, budaya bangsa Arab zaman itu, jika bayi perempuan lahir, maka itu adalah aib. Kemudian Abu Lahab mengutus seorang budak bernama Tsuwaibah untuk mengintai apakah bayi yang lahir itu laki-laki atau perempuan.

Sesuatu yang terbersit di dalam pikiran Abu Lahab saat itu adalah jika yang lahir perempuan, maka dia akan dimusuhi banyak orang dan ditinggalkan oleh para pengikutnya. Ternyata yang lahir adalah seorang laki-laki. Setelah Abu Lahab mendengar kabar kelahiran Rasul saw, dia bahagia bukan main hingga melompat-lompat seraya meneriakkan kata-kata pujian untuk keponakannya yang mulia itu.

Sebagai ekspresi kebahagiaan, Abu Lahab kemudian memerdekakan Tsuwaibah. Pemerdekaan itu diumumkan di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan kelahiran keponakannya itu.

Ternyata perilaku Abu Lahab inilah yang menyebabkan ia mendapat keringanan siksa. Disebutkan dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa pada setiap hari Senin, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa kubur. Hal ini karena pada hari itu, ia memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah sebagai tanda kegembiraannya demi mendengar berita kelahiran keponakannya, yaitu Rasul saw.

Berikut keterangan lengkap dari kitab Fathul Bari:

ذَكَرَ السُّهَيْلِيُّ أَنَّ الْعَبَّاسَ قَالَ : ‌لَمَّا ‌مَاتَ ‌أَبُو ‌لَهَبٍ ‌رَأَيْتُهُ ‌فِي ‌مَنَامِي بَعْدَ حَوْلٍ فِي شَرِّ حَالٍ فَقَالَ مَا لَقِيتُ بَعْدَكُمْ رَاحَةً إِلَّا أَنَّ الْعَذَابَ يُخَفَّفُ عَنِّي كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ قَالَ وَذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَكَانَتْ ثُوَيْبَةُ بَشَّرَتْ أَبَا لَهَبٍ بِمَوْلِدِهِ فَأَعْتَقَهَا

Artinya: Imam al-Suhayli menceritakan bahwa Abbas (salah satu paman Nabi Saw) pernah berkata bahwa setelah satu tahun Abu Lahab meninggal dunia, ia bermimpi melihatnya dalam keadaan yang sangat buruk. Abu Lahab berkata kepadanya: Aku tidak mendapatkan istirahat dari siksa (kubur), namun siksaku diringankan setiap hari Senin. Lalu Imam al-Suhayli berkata: Demikian itu karena Nabi saw dilahirkan pada hari Senin, sedangkan Tsuwaibah mengabarkan kabar gembira ini kepada Abu Lahab, sehingga ia (Tsuwaibah) dimerdekakan (dibebaskan dari status budak).

Berdasarkan riwayat yang bersumber dari Imam al-Ismaili, bentuk keringanan siksa yang diberikan oleh Allah adalah Abu Lahab dapat menghisap sedikit air dari anak jari atau dari celah ibu jarinya.

Riwayat lain yang menjelaskan bahwa Abu Lahab mendapat keringanan adalah riwayat Imam ‘Urwah yang terdapat dalam kitab Sahih Bukhari :

وَثُوَيْبَةُ ‌مَوْلَاةٌ ‌لِأَبِي ‌لَهَبٍ، كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ، قَالَ لَهُ: مَاذَا لَقِيتَ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ: لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Artinya: “Tsuwaibah adalah hamba sahaya Abu Lahab. Dia (Abu Lahab) memerdekakan Tsuwaibah, kemudian Tsuwaibah menyusui Nabi saw. Ketika Abu Lahab meninggal, salah satu keluarganya bermimpi melihat dia dalam keadaan yang buruk. Sebagian keluarganya tersebut bertanya: Apa yang engkau temui? Ia menjawab, Setelah meninggalkan kamu, aku tidak menemui kebaikan kecuali aku diberi minuman ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah.

Berdasarkan riwayat inilah, Syamsuddin ad-Dimasqi  menggubah sebuah syair tentang hal ini, yang artinya: “Jika Si Kafir yang dicela oleh Allah Swt dengan ‘Tabbat Yadahu’ (yakni Abu Lahab) kekal di neraka Jahim, kemudian diberitakan dalam hadis bahwa tiap Senin azabnya diringankan lantaran senangnya atas kelahiran Muhammad, maka bagaimana keyakinan Anda terhadap seorang hamba yang sepanjang hidupnya selalu senang atas kelahiran Muhammad, dan juga mati dalam kondisi muslim?”

Gubahan syair ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada semua umat Islam agar senantiasa bergembira dan menyambut maulid dengan berbagai macam peringatan atau amalan-amalan yang baik. Sosok Abu Lahab yang dicela oleh Allah dan dipastikan mendapatkan siksa selamanya bisa mendapatkan keringanan siksa lantaran bergembira atas kelahiran Rasul saw. Kegembiraan itu diungkapkannya dengan memerdekakan budaknya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orang-orang muslim yang bergembira dengan kelahiran Rasul saw, lalu mereka mengungkapkan kegembiraan itu dengan mengadakan berbagai peringatan, maka sungguh mereka akan mendapatkan balasan berkali kali lipat lebih banyak dari apa yang didapatkan oleh Abu Lahab. Wallahua’lam.

*adalah Pengasuh PPM Raden Paku dan pengurus PC LDNU Trenggalek

You May Also Like

Hukum Menaati Kebijakan PPKM Menurut Syariat Agama

Kebijakan PPKM memunculkan beragam reaksi dari masyarakat. Ada yang patuh, ada yang cuek, dan ada pula yang menghujat. Lantas bagaimana sikap kita seharusnya?

8 Amaliyah Hari Asyura 10 Muharam dan Fadhilahnya

Afrizal el-Adzim Syahputra, Lc., MA* Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang…

Bolehkah Berkurban Untuk Orang Yang Sudah Meninggal ?

Salah satu ibadah pada Idul Adha adalah penyembelihan hewan kurban. Bolehkah berkurban untuk orang-orang yang sudah meninggal?

Apakah Semua Bid’ah itu Sesat?

Oleh: Habib Wakidatul Ihtiar* Beberapa dekade ini, kita pasti kerap mendengar sebuah…