Abstrak:
Kegiatan dakwah (kegiatan tabligh) tidak lepas dari peran bahasa. Dakwah merupakan suatu proses penyampaian pesan atau informasi kepada orang lain dengan memanfaatkan bahasa sebagai alat penyalurnya. Bahasa merupakan alat komunikasi manusia untuk bersosialisasi yang berupa lambang-lambang bunyi yang diperoleh dari ucapan manusia dan kata-kata itu sendiri.

Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan media untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Untuk itu diperlukan suatu media komunikasi yang bernama bahasa. Oleh karena itu, bahasa tidak dapat dipisahkan dari pengaruh budaya. Bahasa merupakan bagian penting dalam mengembangkan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Saat ini sedang marak perbincangan dikalangan masyarakat mengenai majelis ta’lim yang tampil dengan ciri khas dalam menyampaikan dakwahnya. Secara teknis dakwah merupakan suatu proses komunikasi antara da’i sebagai komunikator dan mad’u sebagai komunikan. Majelis baru yangmuncul dengan karakter penyampaian dakwah lucu, santai, serius dengan bahasa jawa ini adalah Majelis Ta’lim Futuhul Qolbi dari Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Pendiri dari majelis ini adalah Muhammad Salsaladin atau lebih dikenal dengan Gus Salsaladin.

Beliau merupakan pendakwah dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an Al-Anwar setempat. Penggunaan bahasa dalam penyampaian dakwahnya ini mencuri perhatian masyarakat, baik masyarakat setempat sampai warganet. Pasalnya Bahasa jawa atau Bahasa daerah setempat dapat memudahkan da’i dalam menyampaikannya kepada mad’u. Gus Salsaladin tidak sekedar berdakwah, namun juga memperhatikan unsur retoris seperti ethos (hikmah) dan pathos (al-mau’idah hasanah). Keduanya mempunyai pengaruh paling besar terhadap tingkat religiusitas seseorang.

Kata kunci: Bahasa, Dakwah, Gus Salsaladin

Unduh artikel lengkapnya melalui tautan berikut:
Retorika Gus Salsaladin dalam Perspektif Religiusitas dan Implikasinya Bagi Masyarakat

Penyusun: Shofiatul Fitriani (Prodi Komunikasi Islam FUAD UIN SATU Tulungagung)

You May Also Like

10 Watak Wasathiyyah Nahdlatul Ulama

Oleh : Habib Wakidatul Ihtiar*   Nahdlatul Ulama (NU) adalah jam’iyah diniyyah-ijtima’iyah…

Nuansa Wahabi Dibalik Gerakan Padri

Oleh : Ust. Afrizal el-Adzim Syahputra, Lc., MA Kemunculan gerakan Salafi-Wahabi di…

Siti dan Sayyidati: Adaptasi Islam dengan Budaya Lokal

Oleh: Misbahus Surur*    ESAI — Beberapa hari lalu secara tak sengaja saya…

Idulfitri: Merayakan Makna dan “Diri” yang Sejati

Oleh: Ustadz Surya Qalandar¹   “Al-Hubûṭ” dan Fitrah Manusia Dalam Al-Qur’an, digambarkan…