Opini oleh: Hj. Nadhirotul Ulfa, M.Pd.I

Menurut sebagian orang, Islam merupakan agama yang ekstrem dan jauh dari kata perdamaian. Hal ini disebabkan oleh sebagian pihak yang melakukan beberapa hal menyimpang yang diatasnamakan agama Islam. Persepsi seperti ini perlu dihindari karena kurang tepat dan justru menimbulkan berbagai perpecahan.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin berupaya untuk mewujudkan perdamaian dan kerukunan seluruh umat manusia. Isu-isu terkait radikalisme dengan mengatasnamakan agama Islam yang berkembang di tengah masyarakat menjadi sebuah tantangan umat Islam dalam memberikan solusi dan pemahaman dalam menentukan kebenaran yang harus dipahami dan diterapkan oleh seluruh umat manusia.

Dalam Q.S. alAnbiya’: 107, Allah Swt berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Ada berbagai pendapat tentang kejelasan maksud dari “rahmat bagi semesta alam” tersebut. Ada yang berpendapat bahwa rahmat tersebut hanya berlaku untuk orang Islam saja, dan ada yang mengatakan bahwa rahmat tersebut berlaku untuk seluruh umat manusia. Namun, beberapa ulama sepakat dengan pendapat yang kedua bahwa kasih sayang diberikan kepada siapa saja yang berada di muka bumi, tanpa membeda-bedakan dari segi apapun, baik suku, bangsa, agama, ras, maupun lainnya, sesuai dengan watak perdamaian dalam Islam.

Perdamaian merupakan prinsip utama dalam mewujudkan kerukunan dan kemaslahatan umat Islam. Agama Islam tidak membenarkan adanya kekerasan maupun terorisme di tengah masyarakat. Perdamaian di tengah masyarakat akan mampu menciptakan kehidupan yang harmonis, nyaman, tentram, dan rukun sejahtera antar sesama manusia. Perdamaian yang diwujudkan di tengah masyarakat akan memberikan suatu kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai Islam yang berorientasi dalam mewujudkan perdamaian di tengah masyarakat dapat diwujudkan dengan semangat dalam menghindari kezaliman. Larangan dalam melakukan kezaliman merupakan upaya untuk menghindari segala malapetaka yang akan terjadi nantinya. Dengan demikian, mewujudkan perdamaian dalam bingkai Islam dapat diwujudkan dengan menghindari kezaliman, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat sekitar kita. 

Prinsip dalam menyamakan derajat di tengah masyarakat juga harus diwujudkan dengan menyeluruh. Hal ini sebagai upaya untuk menghindari sifat iri dan dengki yang akan menimbulkan kesalahpahaman dan berbagai permusuhan di antara masyarakat. Selain itu, menghormati dan menghargai perbedaan sebagai sunnatullah dengan menyadari bahwa kita semua adalah sama, baik dalam hal suku, budaya, ras, harta benda, profesi, jenis kulit, maupun hal-hal lainnya. Yang membedakan adalah ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Memiliki kesadaran untuk menjunjung tinggi keadilan di tengah masyarakat juga harus diutamakan khususnya dalam mewujudkan Islam sebagai agama damai di tengah masyarakat yang beragam. Menyeru hidup rukun dan saling tolong-menolong antarsesama juga merupakan wujud Islam sebagai agama perdamaian. Kehidupan yang rukun damai dan saling menghargai satu sama lain merupakan salah satu tujuan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

“Kehidupan yang rukun damai dan saling menghargai satu sama lain merupakan salah satu tujuan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Hidup dengan penuh toleransi dalam keberagaman merupakan upaya dalam menghindari pertikaian yang merugikan semua pihak. Dengan terwujudnya toleransi yang harmonis di tengah masyarakat maka akan tercipta solidaritas yang tinggi di tengah masyarakat, khususnya dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam, dan juga untuk mewujudkan Islam yang damai.

Islam menyampaikan gagasan tentang perdamaian sebagai suatu pemikiran yang sangat mendasar dan mendalam. Hal ini berkaitan erat dengan watak agama Islam, bahkan lebih dari itu, merupakan pemikiran universal Islam mengenai alam, kehidupan, dan manusia. Dengan demikian, kita sebagai umat Islam harus mampu memahami dan mewujudkan Islam agama perdamaian, bukan ajang terorisme.

*) Penyuluh Agama KUA Kecamatan Pogalan yang juga Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Trenggalek

1 comment
  1. Pretty nice post. I just stumbled upon your
    weblog
    and wanted to say that I’ve really enjoyed surfing around your blog posts.

    After all I’ll be subscribing to your rss feed and I
    hope you write again soon!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Menghindari Sikap Ekstrim Dalam Beragama

Ustazah Atik Lum’atul Hauro * Salah satu penyebab sikap ekstrim terhadap agama…

Musim PPDB, Pesantren Jadi Salah Satu Rujukan Terbaik

Pesantren dapat menjadi pilihan karena ia sudah mengintegrasikan pendidikan modern dengan kurikulum pondok pesantren yang berbasis kitab kuning atau dirasah islamiyah KMI

Muslimah Berkarya, Muslimah Berdaya

Opini – Berstatus sebagai seorang muslimah berkarya, muslimah berdaya di era milenial ini memang dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam membentuk karakter yang

Salahkah Sarjana Menjadi Ibu Rumah Tangga?

Sering bagi kita kaum perempuan mendengar opini tentang pendidikan perempuan. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya akan menjadi ibu rumah tangga?