Salah satu kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Trenggalek punya hobi bermusik. Pernah menjuarai cover shalawat Yalal Waton yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ (PBNU).

Ahmad Fauzi Ketua PAC GP Ansor Dongko Trenggalek
Ahmad Fauzi Ketua PAC GP Ansor Dongko Trenggalek

Ahmad Fauzi yang juga Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek mengatakan, awal mula menyukai musik saat baru menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Awal bermain musik ikut ekstrakurikuler wawasan masih nol. Tampil parade pop, dan ikut festival tapi tidak dapat juara,” kata Gus Fauzi dihubungi lewat telepon seluler, Selasa (09/03/2021).

Setelah fakum selama dua tahun, ia mulai menggeluti hobinya di masa kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ikut mengiringi grup teater sebagai backsound. Lalu ketika tahun 2012 di Trenggalek bergabung dengan teman-temannya penyuka musik.

“Kita buat grup lagi namanya FOX (Fredoom of Expresion). Ikut musik festival dapat juara di STKIP Tulungagung dan SMADA Fest. Saat itu aliran musik Progesif Rock,” ujar Gus Fauzi sapaan akrabnya.

Prestasinya berlanjut ketika mewakili Trenggalek tingkat Jatim dengan title Winner ajangnya Banteng Music Fest. Setelah itu menggunakan lagunya sendiri. Baru tahun 2019 ia menorehkan hasil ketika lomba Cover Yalal Waton yang diadakan oleh PBNU.

“Lomba yang diadakan PBNU, pesertanya nasional (kita) dapat juara dua. Kita tayangkan di youtube hampir 1 juta viewers,” terang alumnus pascasarjana UIN Maliki Malang tersebut.

Hari musik sendiri baginya adalah sebuah ungkapan dan ekspresi jiwa dari seorang pembawa musik. Ekspresinya dituangkan dalam nada dan melodi yang bisa diterima oleh pendengar.

“Di Indonesia kita kalau ingin idealis dengan musik kita tidak dapat pangsa pasar. Karena musik Indonesia itu musiman,” paparnya.

Gus Fauzi menuturkan, bagaimana mempertahankan kualitas musik. Selain itu juga musik tradisional harus dijaga, mungkin dengan perpaduan musik tradisional dengan modern yang disukai anak muda sekarang, tanpa menghilangkan esensi musik itu sendiri.

“Di era tahun 90an selera musik tinggi. Tidak asal membuat lagu, tidak harus keras namun bermakna, seperti Naff, Krispatih, Slank, tidak lekang oleh zaman sampai sekarang,” ungkap pria penyuka trail adventure tersebut.

Gus Fauzi berharap musik-musik tradisional tetap terjaga namun dengan kemasan modern, artinya bisa diterima oleh pangsa pasar sekarang. Ia menilai dari waktu ke waktu, semakin kesini banyak yang suka dengan musik tradisional.

“Kalau musik rock itu bawaan dari luar.
Cita-citaku bagaimana musik tradisional bisa diterima dengan model modern. Kita gabungkan dengan rock karena idealis saya. Kalau saya paksakan di era sekarang tidak bisa,” pungkasnya.

Kontributor : Madzchan Jazuli
Editor : kangizza

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Daftar Pondok Pesantren di Kabupaten Trenggalek

  TRENGGALEK – Tahun ajaran baru bagi lembaga pendidikan pondok pesantren umumnya…

7 Ramadan, Mengenang Wafatnya Hadratussyaikh Hasyim Asyari

    nutrenggalek.or.id – Tepat 75 tahun lalu di bulan yang suci…

Gabungan Aktivis PMII, GMNI, dan BEM STIT Sunan Giri Trenggalek Datangi Kantor Dewan Tolak Omnibus Law

  Gabungan aktivis PMII, GMNI, dan BEM STIT Sunan Giri Trenggalek mendatangi…

Resmi Diluncurkan, NU Care LazisNU Ranting Kedungsigit Sudah Miliki Mobil Layanan Sosial

  NUTRENGGALEK.OR.ID – NU Care LazisNU Ranting Kedungsigit, Kecamatan Karangan, resmi dikukuhkan…