Dewi Yukha Nida saat tampil di Dubai International Holy Qur’an Award, 2019.

Ning Nida, demikian ia biasa dipanggil. Sapaan “Ning” kepadanya tidaklah berlebihan. Bukan saja karena seorang putri kiai, melainkan lebih dari itu, ia merupakan sosok perempuan muda yang sarat ilmu (ngalim) dan pengalaman dalam bidang tilawah al-Qur’an dengan sederet torehan prestasi di level nasional bahkan internasional.

Di antara prestasi menterengnya adalah menjadi Hafidzah Terbaik I lomba Hifdzil Qur’an 30 juz pada even MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) Nasional ke-27 di Medan pada 2018. Lantas Juara I lomba Tafsir al-Qur’an Bahasa Arab pada MTQ Nasional ke-28 di Padang, dua tahun kemudian.

Di kancah internasional, Ning Nida juga berhasil menyabet Harapan III dalam lomba MTQ tingkat dunia yang digelar di Jordania pada 2017.

Nama lengkapnya Dewi Yuskha Nida. Ia anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Kiai Ibnu Mu’thi dengan Ibu Nyai Siti Munawarah. Ayahandanya, Kiai Mu’thi, adalah pendiri sekaligus pengasuh PP. Bahrul Ulum Kedungbajul, Ngadisuko, Kecamatan Durenan, Trenggalek.

Talenta yang dimiliki Ning Nida di bidang ilmu al-Qur’an dan tilawah mulai terlihat sejak mondok di Pesantren Walisongo Cukir, Jombang. Hanya dalam waktu 1,5 tahun di sana, ia berhasil mengkhatamkan hafalan 30 juz.

“Saya mulai mondok kelas 1 Aliyah (di PP. Walisongo Cukir). Waktu itu sudah ada modal hafalan sekitar 5 juz,” tuturnya saat diwawancarai NU Online yang berkunjung ke kediamannya, Sabtu (29/5/2021).

Setelah khatam, kemudian Ning Nida setoran atau tasmi’ (memperdengarkan hafalan) kepada beberapa guru. Di antaranya kepada Ibu Nyai Ummu Habibah Utsman, gurunya di Walisongo; dan KH. Ahmad Syakir Ridwan, mudir (direktur) Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng.

Selain itu, putri kelahiran 25 Desember 1997 tersebut juga memperdengarkan hafalan sekaligus tabarukan kepada KH. Najib Abdul Qadir Munawir, Krapyak. Ia juga mengambil sanad al-Qur’an kepada KH. Fathoni Dimyati Mojokerto yang merupakan santri dari Syekh Yusuf Masyar, pendiri pesantren Madrasatul Qur’an.

Melalui praktik tasmi’ ke sejumlah ulama otoritatif tersebut, Ning Nida memverifikasi atau menyahihkan bacaan al-Qur’annya. Dari tasmi’ itu pula, guru-gurunya melihat adanya bakat tilawah dalam diri Ning Nida. Sehingga ia kemudian didorong agar aktif dalam berbagai perlombaan baca al-Qur’an.

“Pertama kali (mengikuti MTQ) di Banyuwangi, tingkat provinsi Jawa Timur tahun 2015, mengikuti cabang Tafsir Bahasa Arab dan juara,” kenangnya.

Dari situ ia dikirim ke tingkat nasional dan berhasil meraih juara I berturut-turut pada MTQ nasional tahun 2018 dan 2020 di cabang lomba yang berbeda. Ia juga dipercaya menjadi delegasi Indonesia pada MTQ tingkat dunia pada tahun 2017 di Jordania dan 2019 di Dubai.

Prestasi lain yang pernah diraihnya di antaranya Juara II MTQ 30 juz tingkat Provinsi di Banten tahun 2016, Juara III MTQ 30 juz tingkat provinsi di Papua Barat tahun 2016, Juara II MTQ tingkat nasional di NTB tahun 2016. Juara 1 MHQ 30 Juz dan Murottal Sab’ah tingkat nasional MHQ yang diselenggarakan oleh JQHNU.

Merintis Pesantren al-Qur’an Berstandar Internasional

Keikutsertaannya di berbagai ajang MTQ hingga level internasional tersebut betul-betul dimanfaatkan oleh Ning Nida. Program-program pembinaan yang diselenggarakan sebelum perlombaan ia jadikan kesempatan untuk menyerap ilmu membaca al-Qur’an yang sesuai dengan standar internasional dari ustadz dan ustadzah terkemuka.

“Dari setiap lomba itu saya banyak belajar dari guru-guru di dalam pembinaan. Dari situ saya mendapat banyak ilmu dan pengalaman,” ungkap wisudawati terbaik Universitas Hasyim Asy’ari tahun 2015 tersebut.

Bacaan al-Qur’an yang berstandar internasional, lanjutnya, jelas merupakan cara baca yang paling baik dan benar karena sudah diverifikasi atau disahihkan oleh ulama-ulama dunia di bidang baca al-Qur’an. Apalagi kemudian dilombakan untuk mencari bacaan yang terbaik dari tiap-tiap peserta.

Menurut Ning Nida, cara baca al-Qur’an berstandar internasional pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan cara membaca umumnya. Perbedaan yang paling menonjol terletak pada arti dari kata tajwid itu sendiri, yaitu memperbagus atau memperindah.

Keindahan bacaan al-Qur’an yang dimaksud bukan hanya diperoleh dari lagu saja, melainkan juga karena ketepatan lisan dalam memberikan hak dan mustahak huruf demi huruf yang dilafalkan. Pelafalan dengan makhraj dan sifat huruf yang benar harus diperhatikan betul tatkala membaca al-Qur’an agar sesuai dengan lisanan ‘arabiyya, karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas (Q.S. as-Syu’ara: 195).

Dan yang tidak kalah penting lagi adalah moderasi tekanan suara yang dikeluarkan saat melafalkan huruf demi huruf serta penghayatan makna. Maka kemudian, olah suara menjadikan bacaan al-Qur’an semakin indah serta enak didengarkan.

“Mempelajari ilmu tajwid harus ber-talaqqi (berhadap-hadapan langsung dengan guru untuk menirukan bacaan beliau dan memperdengarkan bacaan) kepada guru yang bersanad sampai kepada Rasulullah. Karena, itu juga yang dipraktikkan Rasulullah kepada malaikat Jibril,” terang Ning Nida.

Berbekal pengalaman prestisius itulah, ditambah sanad dari sejumlah ulama yang otoritatif, Ning Nida bercita-cita untuk membumikan al-Qur’an kepada masyarakat luas. Karena itu ia, bersama kakaknya yang sama-sama hafidz dan alim di bidang al-Qur’an, Gus Hamam Nashiruddin, mulai merintis pesantren tahfidz al-Qur’an berstandar internasional.

Upaya itu sudah dimulai sejak tahun 2018 kemarin dengan meneruskan pesantren yang sudah dirintis oleh ayahandanya, PP. Bahrul Ulum Kedungbajul. Kini, setidaknya terdapat 100 santri dan santriwati mukim yang diasuh oleh Ning Nida bersama Gus Hamam untuk belajar dan menghafal al-Qur’an.

(Androw Dzulfikar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Sosok Mbah Anwar, Cikal Bakal Pondok Al-Anwar Ngadirenggo

Sebelum berdiri madrasah pada 1992, Kiai Ghufron mengajar para santrinya di langgar atau musala kecil yang sudah terlebih dahulu berdiri.

Kiai Siradj, Jejaring Ulama Nusantara di Makkah dari Trenggalek

Oleh: Ustadz Wasihus Sunani Ali Asrori*   Khazanah – Suatu malam menjelang…