Trenggalek – Baru-baru ini, wacana Islam Nusantara kembali mengemuka. Kontroversi mengenai wacana keislaman yang diarusutamakan Nahdlatul Ulama (NU) ini, sebenarnya, sudah banyak dijelaskan secara gamblang oleh kyai, ulama, maupun akademisi. Dan jika dicermati, penolakan hingga tuduhan sesat, liberal dan kafir terhadap Islam Nusantara hanyalah soal istilah.

 

Oleh karena itu, jika ingin lebih memahami mengenai Islam Nusantara, sudah banyak literatur bacaan yang tersedia. Beberapa buku bacaan mengenai Islam Nusantara sudah didaftar oleh Gus Rijal Mumazziq Z, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Surabaya, sebagai berikut:

  1. Islam Nusantara, karya Ahmad Baso;
  2. Masterpiece Islam Nusantara, karya Zainul Milal Bizawie;
  3. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII-VIII, karya Prof. Azyumardi Azra;
  4. Sejarah Islam Nusantara, karya Michael Laffan;
  5. Nasionalisme dan Islam Nusantara. (Bunga rampai). Editor: Abdullah Ubaid dan Muhammad Bakir;
  6. Islam Nusantara. (Bunga rampai). Editor: Akhmad Sahal dan Munawir Aziz;
  7. Kontroversi Islam Nusantara, karya Faris Khoirul Anam;
  8. Islam Nusantara dalam Konteks Multikulturalisme, karya Syafiq Hasyim;
  9. Mahakarya Islam Nusantara, karya Ahmad Ginanjar Sya’ban;
  10. Warisan Intelektual Ulama Nusantara, karya Fauzi Ilyas;
  11. Atlas Walisongo, karya Prof. Agus Sunyoto;
  12. Sejarah Hukum Islam Nusantara abad XIV-XIX, karya Ayang Utriza;
  13. Ulama-Ulama Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz, karya Amirul Ulum;
  14. Al-Jawi al-Makki: Kiprah Ulama Nusantara di Haramain, karya Amirul Ulum;
  15. Ensiklopedi Ulama Nusantara, karya Bibit Suprapto;
  16. Mushaf Nusantara: Sejarah dan Variannya, karya M. Solahuddin;
  17. Tradisi Pesantren, karya Zamakhsyari Dhofier;
  18. Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur, karya KH. Abdurrahman Wahid;
  19. Direktori Edisi Naskah Nusantara. Edi S. Ekadjati (Penyunting);
  20. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara: Cerminan Budaya Bangsa, jilid 1 dan 2 (Depag);
  21. Merajut Kenusantaraan Melalui Naskah, karya Muhammad Ardiansyah dan Qomarus Soleh;
  22. Inskripsi Islam Nusantara: Jawa dan Sumatera, (Puslitbang Depag);
  23. Ragam Ekspresi Islam Nusantara. (Penerbit Gatra);
  24. Islam Nusantara: Sejarah Sosial Intelektual di Indonesia, karya Noor Huda;
  25. Nalar Islam Nusantara: Studi Islam ala Muhammadiyah, al-Irsyad, Persis dan NU, (Depag);
  26. Pesantren Studies (beberapa jilid), karya Ahmad Baso;
  27. Naskah-Naskah Skriptorium Pakualaman, karya Sri Rama;
  28. Menusantarakan Islam, karya Aksin Wijaya; dan
  29. Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia, karya Moeflich Hasbullah.

 

Buku-buku di atas belum termasuk:

  1. Buku-buku mengenai kerajaan/ kesultanan Islam di Nusantara yang meliputi sejarah para raja, perkembangan politik-sosial-intelektual-militer, maupun biografi dan hagiografi para tokoh di dalamnya;
  2. Biografi para ulama dalam kurun 6 abad terakhir. Baik para ulama yang sudah masyhur (Walisongo, Syekh Yusuf Maqassary, Syekh Arsyad Banjari dll), maupun ulama-ulama yang belum begitu masyhur di khalayak tapi memiliki kontribusi bagi umat. Termasuk biografi para ulama pengasuh pesantren/ surau/ madrasah/ meunasah yang punya andil dalam memperkokoh pendidikan Islam. Biografi ulama-ulama lokal ini biasanya diterbitkan oleh lembaga yang bersangkutan;
  3. Buku-buku karya ulama Nusantara dalam kurun 5 abad terakhir, dari Tarjuman al-Mustafid karya Syekh Abdurrauf Assnikily, Sabilul Muhtadin karya Syekh Arsyad Al-Banjari, hingga karya ulama kontemporer Indonesia yang berbahasa Arab, Indonesia maupun berbahasa daerah;
  4. Karya-karya yang mengupas secara detail berbagai karya ulama Nusantara di atas, sekaligus memberikan ulasan mengenai perjuangan muallif-nya. Misalnya karya Zainul Milal Bizawie yang mengangkat kembali pamor keulamaan Kiai Mutamakkin, ulama oposan di abad 18, dan karya-karyanya. Juga, buku mengenai Kiai Ahmad Rifai yang ditulis oleh Ahmad Adabi Darban, yang berjudul “Rifa’iyah: Gerakan Sosial Keagamaan di Pedesaan Jawa Tengah Tahun 1850-1982”.

 

(Androw Dzulfikar)

4 comments
  1. My partner and I stumbled over here
    different page and thought I
    may as well check things out.
    I like what I see so i
    am just following you. Look forward to looking over your web page again.

Tinggalkan Balasan
You May Also Like

10 Watak Wasathiyyah Nahdlatul Ulama

Oleh : Habib Wakidatul Ihtiar*   Nahdlatul Ulama (NU) adalah jam’iyah diniyyah-ijtima’iyah…

Sejarah Tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek: Dari Wali Songo hingga Mbah Mesir

Tradisi kupatan merupakan akulturasi budaya yang dilakukan oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Tradisi kupatan yang sebelumnya adalah simbol yang dikenal

Siti dan Sayyidati: Adaptasi Islam dengan Budaya Lokal

Oleh: Misbahus Surur*    ESAI — Beberapa hari lalu secara tak sengaja saya…

Muslimah Berkarya, Muslimah Berdaya

Opini – Berstatus sebagai seorang muslimah berkarya, muslimah berdaya di era milenial ini memang dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam membentuk karakter yang