“Ancakan”, Tradisi Berebut Jajan Seusai Shalat Idul Fitri yang Berusia 30 Tahun di Masjid Baiturrahman

tradisi ancakan seusai salat ied di masjid baiturrahman pogalan trenggalek

Esai – Lantunan takbir Idul Fitri terus mengalun dari corong Masjid Baiturrahman, menyambut warga yang mulai berdatangan untuk melaksanakan Salat Ied. Di pintu gerbang, tiga orang takmir mengecek satu persatu jamaah yang datang. Satu di antaranya tampak memegang sekotak masker, yang akan ia berikan kepada jamaah yang kedapatan tidak memakai.

Pagi hari itu tanggal 1 Syawal 1442 H, bertepatan dengan hari Kamis 13 Mei 2021. Jam menunjukkan pukul 6 lebih 15 menit. Sudah banyak jamaah yang beriktikaf di dalam masjid sambil terus melantunkan takbir, tahlil, dan tahmid. Mereka duduk dengan jarak kurang lebih satu meter.

Suasana di luar masjid tidak kalah ramainya. Anak-anak kecil hingga remaja berkumpul di sekitaran halaman. Ada yang saling berkejaran, ada yang asyik bersama keluarganya, dan sebagian lainnya, yang remaja, duduk-duduk santai sambil berbincang.

Akan tetapi banyak juga yang hanya berdiri, sambil memandangi ratusan jajanan yang dikaitkan pada bilah bambu berbentuk lingkaran di atasnya. Aneka jajan yang bergantungan tersebut nanti, seusai salat Ied, diturunkan ketinggiannya untuk diperebutkan oleh anak-anak dan remaja yang hari itu hadir di masjid.

Itulah, yang oleh masyarakat Dusun Jatisari, Pogalan, Kabupaten Trenggalek—di mana masjid Baiturrahman berada—disebut dengan “Ancakan”.

 

Menengok Tradisi ‘Ancakan’ di Masjid Baiturrahman

“Ancakan” merupakan turunan kata dari kata dasar (Jw. tembung lingga) “ancak” yang mendapat akhiran (Jw. Panambang) –an. Dalam KBBI, ancak berarti: talam yang dibuat dari anyaman (bambu, daun atau lidi nyiur) untuk tempat barang yang disajikan kepada roh (hantu dan sebagainya); atau para-para (anyaman bambu dan sebagainya tempat menaruh perkakas dapur).

Bisa jadi, kata ancakan berawal dari kata bancakan—yang berkonotasi pada kenduri dan makan bersama—yang dihaluskan pengucapannya agar lebih mudah dilafalkan. Namun bagi warga Dusun Jatisari, ancakan merujuk pada tradisi berupa kegiatan atau aktivitas berebut ratusan jajan atau snack yang dikaitkan pada bilah (belahan bambu) yang dibentuk membulat dan digantung sedemikian rupa sehingga bisa dinaikturunkan.

Ancak terdiri dari 3 bundaran bilah bambu yang ditopang 1 batang bambu utuh sebagai rangkanya. Bilah bambu tersebut bergaris tengah kira-kira 1 meter, sedangkan panjang rangkanya antara 4 hingga 5 meter.

Seluruh permukaan bambu dilapisi kertas hias berwarna-warni menggunakan perekat atau lem. Setelah itu, ratusan jajan (snack), minuman gelasan atau botol, buah-buahan, serta balon—sebagai penghias—dikaitkan menggunakan tali rafia. Tali rafia ini dibuat setipis mungkin agar mudah lepas ketika ditarik. Inilah yang disebut ancak.

Ancak kemudian digantung pada palang yang juga berbahan bambu setinggi kira-kira 3–4 meter menggunakan tali tambang. Tali tambang berfungsi untuk menurunkan ancak pada waktu yang telah ditentukan, sekaligus menandai dimulainya perebutan jajan.

Tradisi ancakan dilaksanakan oleh panitia yang terdiri dari remaja masjid. Biasanya, proses pembuatan ancak dimulai satu minggu sebelum hari raya Idul Fitri. Panitia menggalang dana dari iuran anggota remaja masjid dan juga dari para dermawan (donatur) setempat untuk pembiayaan pembelian aneka jajan dan keperluan lainnya.

Malam hari raya Idul Fitri—di saat warga berbondong-bondong ke masjid untuk membayar zakat fitrah—pengurus remaja masjid berkumpul untuk membuat dan menghias ancak, setelah sebelumnya, bambu dan bilah disiapkan oleh remaja masjid putra pada siang harinya. Pada malam itu juga, ancak yang sudah jadi langsung dipasang atau digantung di palang. Pada malam itu, ancak sudah dalam kondisi siap digunakan.

Esok paginya, begitu rangkaian pelaksanaan salat Ied selesai, seluruh anak-anak dan remaja yang hari itu hadir di masjid berkumpul di bawah ancak. Setelah ketua takmir memberi aba-aba melalui pengeras suara, salah seorang petugas menurunkan ancak hingga ketinggiannya bisa dijangkau oleh tangan anak-anak.

 

Baca juga:

Idulfitri: Merayakan Makna dan “Diri” yang Sejati

Lebaran Ketupat, Sebuah Pertarungan Wacana Sakral-Profan

 

‘Ancakan’ sebagai Wujud Syukur dan Berbagi Kebahagiaan di Momen Idul Fitri

Histeria anak-anak seketika pecah begitu ancak diturunkan. Tangan yang sudah terangkat dari tadi langsung meraih jajan sebanyak mungkin. Tangan kanan yang meraih, tangan kiri bertugas memegang hasilnya. Ada juga yang bekerja sama. Satu anak bertugas meraih jajan sebanyak-banyaknya, anak yang satunya yang mengumpulkan hasilnya.

Selain anak-anak, sejumlah ibu-ibu juga turut berebut jajan di bawah ancak. Mereka, ibu-ibu yang ikut dalam perebutan tersebut, mencarikan jajan atau sekedar balon untuk anaknya yang masih sangat kecil, yang tidak mungkin ikut berebut dengan banyak orang.

Keriuhan perebutan jajan itu berlangsung selama 10 hingga 15 menit, hingga tidak ada satu pun jajan yang tersisa di ancak. Semua bergembira. Tidak ada seorang pun anak yang tidak memperoleh jajan. Anak-anak, remaja, hingga para orang tua, semuanya bersuka cita menikmati keseruan perebutan jajan. Semuanya berbahagia di hari raya kemenangan Idul Fitri 1 Syawal itu.

Setelah ancak benar-benar sudah kosong atau bersih dari jajan, salah seorang petugas menaikkannya kembali. Acara dilanjutkan dengan kenduri bersama oleh para jamaah, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak langsung pulang seusai khutbah.

Di acara kenduri itu, berpuluh-puluh ayam ingkung atau lodho yang menjadi makanan khas Kabupaten Trenggalek disantap bersama sebagai tanda syukur menyambut hari raya Idul Fitri, setelah didahului dengan dzikir dan tahlil. Agenda ini juga sudah menjadi tradisi di masjid Baiturrahman. Namun mengingat masih dalam suasana pandemi Covid-19, berkat tidak dimakan bareng di masjid tetapi langsung dibawa pulang.

Semua tradisi itu, ancakan dan kenduri, diselenggarakan sebagai wujud syukur kepada Allah Swt, sekaligus berbagi kebahagiaan antar warga Dusun Jatisari, khususnya jamaah masjid Baiturrahman di tiap hari raya Idul Fitri.

 

Baca juga:

Mengangkat Gema Langgar yang Terpinggirkan

Deja Vu Sowan Lebaran di Tengah Pandemi

 

Sejarah Tradisi “Ancakan” di Masjid Baiturrahman

Tradisi berebut jajan seusai salat Ied di masjid Baiturrahman sudah berjalan lebih dari 30 tahun. Hingga Idul Fitri 1442 H ini, menurut Kiai Abdul Syakur, ketua takmir sekaligus imam masjid Baiturrahman, ancakan tidak pernah sekali pun absen dari rangkaian pelaksanaan salat Ied di masjid tersebut.

Adalah seorang pemuda bernama Sholeh yang disebut sebagai perintis tradisi ancakan di masjid Baiturrahman. Sholeh, yang pada waktu itu masih mahasiswa, bersama kawan-kawannya melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) bertempat di masjid.

“Persisnya lupa, tapi yang pasti itu antara tahun 1988 dan 1989, ketika saya belum diamanahi menjadi imam masjid sini,” ungkap Kiai Syakur.

Diceritakan Kiai Syakur, Sholeh dan kawan-kawan berupaya merintis dan menghidup-hidupkan berbagai kegiatan kreatif sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat. Ketekunannya dalam mengabdi itu menjadikan Sholeh dkk diterima dengan baik oleh masyarakat.

Mereka dipersilakan menempati sebagian ruang rumah milik (alm) Mbah Mukaji, imam masjid waktu itu, yang rumahnya terletak di seberang masjid. Bahkan hingga beberapa tahun setelahnya, meskipun masa KKN sudah usai, Sholeh masih terus tinggal di rumah Mbah Mukaji dan turut mengurus masjid.

“Sholeh tiga tahun di sini kalau ndak salah. Masyarakat sini paham semua (tentang kiprahnya),” lanjut Kiai Syakur.

Selama tiga tahun itu, Sholeh getol dalam menghidup-hidupkan kegiatan keagamaan di masjid Baiturrahman. Ia menghimpun anak-anak dan remaja yang tinggal di sekitar masjid, membentuk organisasi remaja masjid, dan membuka Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Termasuk merintis ancakan pada saat hari raya Idul Fitri.

“Sholeh itu aslinya Tuban. Saya ingat dia anaknya kuncen (juru kunci) makam Sunan Bonang. Tapi dia KKN dari kampus mana kok lupa,” tutur Kiai Syakur yang rumahnya persis di belakang masjid.

Sepeninggal Sholeh, kegiatan keagamaan di masjid Baiturrahman sempat vakum, kecuali tradisi ancakan yang masih terus berlanjut.

Kiai Syakur sendiri mulai mendapatkan amanah untuk mengurus dan menjadi imam di masjid Baiturrahman sejak tahun 1992. Ia mengaku pernah satu kali bertemu dengan Sholeh, dalam acara pernikahan salah seorang remaja masjid.

“Waktu itu Sholeh sudah tidak lagi di sini. Tapi ketika salah satu anak binaannya dulu menikah, ia datang ke sini bahkan yang menjadi pasrah manten. Itu karena saking dekatnya dengan anak-anak dan remaja Baiturrahman sini,” lanjutnya.

Meskipun Kiai Syakur mulai menjadi imam pada tahun 1992, namun sejak tahun-tahun sebelumnya, ia mengaku sudah sering mengunjungi masjid tersebut karena imam masjid waktu itu, Kiai Bisri dan Kiai Zabidi (sekarang pengasuh Pesantren Daruh Huda Melis, Gandusari), adalah teman seperjuangannya di Nahdlatul Ulama.

“Waktu itu Kiai Bisri jadi Ketua Ansor Trenggalek dan saya Sekjennya. Kiai Zabidi juga aktivis yang sering kegiatan di gedung NU. Jadi dari awal sudah sambung, tinggal meneruskan dan mengembangkan,” imbuh Kiai Syakur.

Ancakan, yang sudah mentradisi sejak lebih dari 30 tahun yang lalu, terus dipertahankan hingga sekarang sebagai upaya memakmurkan masjid Baiturrahman. Demikian juga TPA, madrasah, dan sejumlah kegiatan keagamaan lain.

“Kuncinya adalah aktifnya remaja masjid,” pungkas Kiai Syakur.


 

(Androw Dzulfikar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *