6 Adab Berpuasa dalam Kitab Maqashid ash-Shaum

Oleh: Habib Wakitadul Ihtiar*

6 adab berpuasa dalam kitab maqashid ash shaum - nu online trenggalek

 

6 adab berpuasa – Ramadhan telah tiba. Kedatangannya membawa kebahagiaan bagi seluruh umat muslim. Berbagai bentuk penyambutan pun dilakukan sebagai manifestasi rasa syukur karena telah dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia ini. Mulai dari doa bersama (megengan), ziarah kubur, bersih-bersih masjid atau musala, dan lain sebagainya.

Bulan suci Ramadhan identik dengan bulan puasa. Sebab, di bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar ini, Allah Swt mewajibkan setiap hamba-Nya untuk menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 283 sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu semua bertakwa” (Q.S. al-Baqarah: 283)

Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa merupakan ibadah yang spesial. Dalam hal ini terdapat dua faktor. Pertama, puasa adalah ibadah sekaligus tradisi yang dilakukan oleh orang-orang sejak jaman dahulu. Dan kedua, puasa merupakan sarana bagi umat muslim untuk mencapai derajat takwa (muttaqin) kepada Allah Swt. Melalui puasa, seseorang akan meningkat kematangan spiritualitasnya, sehingga tali hubungannya dengan Allah Swt menjadi semakin kuat.

Agar kita mampu menggapai hal tersebut, beberapa upaya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tentu yang pertama dengan memenuhi syarat dan rukun puasa. Syarat dan rukun menjadi aspek fundamental bagi setiap ibadah, termasuk puasa. Dengan memenuhi syarat dan rukun yang ditetapkan dalam syariat, maka puasa seorang muslim menjadi sah.

Akan tetapi, ibadah puasa tidak hanya berbicara perihal hukum saja. Ada pula perkara yang wajib diperhatikan oleh orang yang berpuasa (shaim) disamping syarat dan rukunnya. Perkara tersebut adalah adab berpuasa.

Adab dalam berpuasa merupakan bentuk sikap dan perilaku yang menentukan kualitas puasa seseorang. Adab menjalankan ibadah puasa sangatlah penting untuk diperhatikan, sebab, dengannya, puasa yang ditunaikan akan bernilai lebih di hadapan Allah Swt. Adab yang baik juga dapat mempengaruhi pahala puasa seorang muslim.

 

Lantas, bagaimana adab bagi orang yang berpuasa?

Syekh Izzuddin bin Abdissalam dalam kitabnya, Maqashid ash-Shaum, menerangkan bahwa terdapat 6 (enam) adab yang harus diperhatikan oleh orang yang berpuasa, meliputi:

Pertama, menjaga lisan dan anggota badan dari perkara yang bertentangan dengan syariat. Agar puasa tetap berkualitas, lisan seseorang harus dijaga dari ucapan-ucapan yang tidak baik seperti gibah, adu domba, menggunjing, dan sebagainya. Sementara anggota badan wajib dijauhkan dari perbuatan-perbuatan maksiat, misalnya mencuri, mencelakai, berhubungan suami istri di siang hari, dan lain-lain.

Kedua, apabila diundang dalam majelis walimah (santap makan) hendaklah berkata bahwa ia sedang berpuasa. Seseorang yang sedang berpuasa wajib, harus berkata jujur kepada siapapun yang mengajaknya makan atau minum, bahwa ia sedang menjalankan puasa. Namun, apabila ia berpuasa sunnah, ia bisa memilih antara melanjutkan puasanya, atau berbuka demi menghormati orang yang mengundangnya makan dan minum.

Ketiga, memanjatkan doa ketika hendak berbuka puasa. Berdoa ketika berbuka puasa hukumnya sunnah. Maka, sebaiknya seorang muslim mengawali buka puasanya dengan berdoa terlebih dahulu. Sebagaimana doa yang disampaikan Nabi saw berikut:

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Allah, untuk-Mu puasaku dan dengan rizki-Mu aku berbuka.” (HR. Baihaqi)

Keempat, dianjurkan mengawali berbuka puasa dengan kurma, jika tidak ada maka bisa dengan air. Kurma termasuk makanan yang digemari oleh Rasulullah saw. Terdapat beragam khasiat dalam buah kurma. Sehingga dianjurkan mengonsumsi kurma saat berbuka puasa. Namun, jika tidak ditemukan kurma, maka dapat menggunakan makanan pokok ataupun jenis makanan yang lazim ditemukan di suatu wilayah seorang muslim.

Kelima, menyegerakan berbuka. Segera berbuka puasa sangat dianjurkan oleh agama.

Ketika seseorang menyegerakan berbuka puasa, ia telah menjalankan dua kebaikan, yaitu: 1) menunaikan sunnah Nabi saw, dan 2) menjaga kesehatan tubuh. Berbuka puasa dengan segera membantu menjaga siklus kesehatan tubuh di bulan Ramadhan. Sebaliknya, menunda-nunda berbuka akan memberikan dampak tidak sehat bagi tubuh, dan ini termasuk perbuatan menzalimi diri sendiri (dzulmun li nafsihi).

Keenam, mengakhirkan sahur. Melakukan santap sahur juga tergolong ibadah sunnah. Di dalamnya terdapat banyak keutamaan yang bisa dipetik oleh umat muslim. Apalagi sahur dilakukan di akhir waktu menjelang imsak. Hal ini dapat memberikan energi yang lebih dalam menjalankan ibadah puasa.

Demikianlah adab-adab yang harus dipahami dan dilakukan oleh seseorang yang sedang berpuasa, agar ibadah puasa yang ia laksanakan memiliki kualitas tinggi di hadapan Allah Swt. Adab adalah mustikanya ilmu dan ibadah. Maka sebagai seorang muslim, seyogyanya kita hiasi ibadah puasa kita dengan adab-adab yang mulia.

Wallahu a’lam.


* Penulis adalah Bendahara PAC GP Ansor Kecamatan Trenggalek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *