Tingkatan Puasa Tertinggi dan Ketakwaan

Oleh: Ustadz Surya Qalandar[1]

nu trenggalek sumber detiknews

Puasa bukanlah barang baru. Orang-orang dahulu menganggap puasa sebagai bagian dari kesuksesan hidup. Di antaranya adalah Socrates (469–399 SM) dan Plato (427–347 SM). Keduanya biasa berpuasa selama tujuh sampai sepuluh hari dalam waktu tertentu, dengan tujuan meningkatkan dan menjaga kesehatan fisik, mental, serta kualitas otak mereka.

Bahkan filsuf dan matematikawan besar, Pythagoras (570–495 SM), guru dari Socrates dan Plato yang juga sahabatnya Nabi Sulaiman a.s. ini, biasa berpuasa selama empat puluh hari sebelum beliau melaksanakan ujian studinya di Aleksandria, Mesir. Beliau juga meminta agar murid-muridnya melakukan puasa terlebih dahulu sebelum memasuki kelasnya.

Plato and Socrates fasted for 7-10 days to gain physical and mental efficiency. Pythagoras fasted 40 days before his examination at Alexandria and required his students to fast before entering his classes.”

Keterangan di atas bisa dilihat di antaranya dalam kitab Falsafat al-Shiyâm: Bah}th fi> H{aqi>qat al-S{iya>m al-Ta>ri>khiyyat wa al-Di>niyyat wa al-‘Ilmiyyat, hlm 35., dan al-Rayya>n fi> Mafhu>m al-S{iya>m Bayna al-Adya>n, hlm. 39.

Namun demikian, tidak semua puasa yang dilakukan masing-masing orang memiliki kualitas yang sama. Al-Ghazali, dalam Magnum Opus-nya, Iyā Ulūm al-Dīn, membagi puasa menjadi tiga tingkatan:

إعلم أن الصوم ثلاث درجـــات: صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص. أمـــا صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما ســـبق تفصيله. وأمـــا صوم الخصوص فهو كف الســـمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام. وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهمم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية، ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر (إحياء، ج. ١\ص. ٢٣٥، الحرمين)

Artinya: Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, mata, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa. Sementara puasa paling khusus yaitu menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah Swt. Untuk puasa yang ketiga ini (awm khuṣūṣ al-khuṣūṣ) dianggap batal apabila terlintas dalam hati pikiran selain Allah Swt dan hari akhir. (Iḥyā’ 1/235, al-Ḥaramayn)

Klasifikasi al-Ghazali tentang puasa ini mirip dengan klasifikasi al-Qushayri (986Tin–1074 M) dalam hal ibadah. Dalam Risālah-nya, beliau menyebutkan perbedaan antara ‘ibādah (penyembahan), ‘ubūdiyyah (penghambaan), dan ‘ubūdah (pemujaan). ‘Ibādah merupakan praktik orang awam, sedangkan orang khusus (khawāṣṣ) menempati tingkat ‘ubūdiyyah. Sementara yang ketiga, dan ini yang paling tinggi, adalah ‘ubūdah, yaitu praktik elite (khawāṣṣ al-khawāṣṣ). ‘Ubūdah merupakan tataran (maqām) tertinggi yang dicapai oleh seorang hamba dalam menyaksikan-Nya.

Jadi, puasa paling khusus (awm khuṣūṣ al-khuṣūṣ) adalah puasanya para elite: hamba pilihan. Para elite ini dituntut untuk tetap menjaga fokus perhatiannya hanya kepada Allah. Segala macam yang mengalihkan perhatian (distraction) kepada-Nya merupakan musuh nyata (‘aduww mubīn): shayṭān. Sepanjang sejarah, dalam banyak tradisi, setan selalu menjadi oponen (musuh) manusia. Dalam bahasa Ibrani, kata setan ditulis dengan śāṭān: adversary, opponent, to be hostile. Adapun dalam bahasa Asyur/Asiria (Assyria) ditulis dengan (sāṭānā); bahasa Arab شيطان (shayṭān), dan Ethiopia dengan s/shayṭān. Semuanya mengandung pengertian yang sama.

Al-Thabari, dalam tafsirnya, Tafsi>r al-T{abari> Ja>mi’ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l Ay al-Qur’a>n, Juz 1, hlm. 109, mengatakan:

تأويل قوله: (من الشيطان). والشيطان في كلام العرب كل متمرد من الجن والإنس والدواب وكل شيء. قال أبو جعفر: وإنما سمى المتمرد من كل شيء شيطانا؛ لمفارقة أخلاقه وأفعاله أخلاق سائر جنسه وأفعاله، وبعده من الخير. (تفسير الطبرى جامع البيان عن تأويل آى القرأن؛ ج 1\ ص 109)

Artinya: “Takwil (explanation; clarification; discovery) perkataan ‘Min al-Shayt}a>n’: Setan, dalam perkataan Arab, adalah segala yang membangkang, baik dari jenis jin, manusia, binatang, atau yang lainnya. Abu Ja’far al-Thabari mengatakan alasan kenapa setiap yang membangkang disebut setan, karena perilakunya menyalahi perilaku makhluk-makhluk sejenisnya, dan sebab ia jauh dari kebaikan.”

Dalam Islam, puasa merupakan latihan menghayati hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhan. Di antara semua ibadah, yang paling bersifat pribadi adalah puasa, dalam arti bahwa yang tahu kita berpuasa atau tidak hanyalah kita dan Tuhan, orang lain tidak. Mengapa ketika kita dalam keadaan lapar dan dahaga, dan sendirian, kita tetap menahan diri untuk tidak makan dan minum? Itu sebetulnya merupakan latihan bersikap jujur kepada Allah Swt dan juga kepada diri sendiri.

“Di antara semua ibadah, puasa adalah ibadah yang paling privat. Hanya ia dan Tuhan yang tahu.”

Sementara itu, dalam ibadah selain puasa, kita dianjurkan sepublik mungkin. Misalnya, kalau salat, sebaiknya kita berjamaah, karena jamaah memiliki fungsi sosial: memperkuat komunitas ikatan salat. Haji juga dilaksanakan bersama banyak orang. Zakat lebih menarik lagi, karena dalam Al-Qur’an ada indikasi bahwa Tuhan tidak peduli apakah orang yang membayar zakat itu ikhlas atau tidak. Hal yang penting dari zakat adalah orang miskin tertolong, karena salah satu tujuan zakat adalah menolong orang miskin.

Puncak dari puasa adalah takwa (…la‘allakum tattaqūn). Karenanya, tetap menjaga fokus perhatian dengan jalan perenungan dan permenungan akan keagungan dan kedahsyatan-Nya adalah mental orang-orang yang bertakwa (muttaqīn). Takwa, lebih dari pengertian dasarnya (menjalankan perintah dan menjauhi larangan), dipahami sebagai “kesadaran ketuhanan” (God conciousness), yaitu kesadaran tentang adanya Tuhan Yang Mahahadir (Omnipresent) dan Maha Mengetahui (Omniscient) dalam hidup seorang hamba.

Dengan demikian, puasa merupakan latihan menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup; Tuhan selalu beserta kita, di mana pun kita berada. Inilah inti dari takwa: kesadaran bahwa dalam hidup ini kita selalu mendapat pengawasan dari Allah Yang Mahagaib. Kalau kita baca ayat-ayat pertama dalam surat al-Baqarah, yakni ayat 1–2 , maka indikasi pertama takwa adalah: “Mereka yang beriman kepada yang gaib.” (QS. al-Baqarah (2): 3). Sebab, moralitas yang sejati memerlukan dimensi kegaiban, yaitu bagaimana orang tetap berbuat baik dan menghindar dari kejahatan meski tidak ada yang tahu, karena ada Allah Yang Mahatahu.

“Puncak dari puasa adalah ketakwaan.”

Dalam pengertian yang lain, takwa adalah ‘puasa’ itu sendiri, yakni pengendalian diri, yang juga bermakna kemampuan menunda kesenangan (delayed gratification) yang bersifat kekinian atau sesaat demi mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya, yaitu kebahagiaan rohaniah. Dengan begitu, takwa juga dapat dipahami sebagai sikap berpengharapan terhadap masa depan, yakni mengendalikan diri menunda kesenangan duniawi demi kesenangan akhirat yang lebih abadi. Dalam dimensi absolut, takwa adalah kemampuan melepaskan diri dari tawanan dirinya, dari belenggu kekinian dan kesekarangan (captive of here and now) yang dapat memperdaya manusia untuk memahami hakikat dirinya.

Manusia itu pada dasarnya suci, tetapi ia adalah makhluk yang lemah, suka membuat kesalahan. Dalam bahasa lain, erare humanum est (kesalahan adalah manusiawi). Sehingga ia mudah tergelincir ke dalam dosa yang menjadikan dirinya tidak lagi suci. Salah satu kelemahan manusia paling pokok ialah pandangannya yang pendek dan tidak mampu melihat jauh ke depan, sehingga mudah tertarik kepada hal-hal yang secara sepintas menawarkan kesenangan, padahal dalam jangka panjang membawa malapetaka.

Itulah sebabnya dalam Agama ada ritus penyucian puasa yang akan terus mengembalikan kesucian manusia. Orang yang menjalankan ibadah puasa sesuai tuntunan dengan sendirinya akan dapat mengembalikan jiwanya kepada kesucian atau paradiso: suatu kebahagiaan karena tanpa dosa.

Ramadan adalah ‘pembakaran’—atau dalam istilah Dante Aligheri ‘Api Penyucian’ (purgatorio)—dan setelah melewati proses ‘pembakaran’ tersebut, manusia akan mendapati dirinya kembali pada fitrahnya: Idulfitri. Wallâhu A’lam.

 


[1] Ustadz di PPM Raden Paku, Surodakan, Trenggalek, dan  sedang studi di Pascasarjana STAI DIponegoro, Tulungagung.

2 Replies to “Tingkatan Puasa Tertinggi dan Ketakwaan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *