Siapa Yang Akan Disembelih: Ismail atau Ishaq? Kajian Tafsir al-Maraghi

Oleh :  Ustadz Afrizal El Adzim Syahputra, Lc., MA

silang pendapat siapa yang disembelih ismail atau ishaq

 

Syariat kurban dilatarbelakangi oleh kisah penyembelihan yang akan dilakukan Nabi Ibrahim a.s. pada anaknya. Peyembelihan ini sebagai bentuk tindak lanjut dari apa yang pernah beliau mimpikan. Namun, siapakah yang akan dijadikan korban persembahan: apakah Nabi Ismail a.s. dan Nabi Ishaq a.s., atau salah satu dari keduanya? Menyikapi hal ini, penulis akan memaparkan beberapa penjelasan Imam al-Maraghi, salah satu ulama kondang dari Mesir. Diantara karya monumental beliau adalah Tafsir al-Maraghi. Tafsir ini beliau tulis lengkap mulai juz satu sampai tiga puluh. Di dalam tafsir ini, beliau mengupas silang pendapat antar ulama tentang siapa yang akan disembelih oleh Nabi Ibrahim.

Al-Qur’an tidak menyampaikan secara sharih mengenai siapa yang akan disembelih oleh Nabi Ibrahim. Al-Qur’an hanya menyampaikan bahwa Ibrahim meminta pertimbangan kepada putranya sebelum melakukan penyembelihan. Imam al-Maraghi berpendapat bahwa tidak ada dalil yang sharih dari hadis sahih dan mutawatir mengenai siapa yang akan disembelih oleh Ibrahim, apakah Ismail ataukah Ishaq. Akan tetapi, terdapat beberapa riwayat yang dinukil dari para sahabat, tabiin, dan ahlul kitab, meski terjadi silang pendapat di antara mereka.

Al-Qur’an tidak menyampaikan secara sharih mengenai siapa yang akan disembelih oleh Nabi Ibrahim. Al-Qur’an hanya menyampaikan bahwa Ibrahim meminta pertimbangan kepada putranya sebelum melakukan penyembelihan.

Mereka yang berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq berpegang teguh pada beberapa dalil, diantaranya riwayat yang dinukil dari Nabi Yusuf a.s.. Yusuf a.s. berkata kepada Firaun, “Apakah kamu tidak suka makan bersamaku? Demi Allah, aku adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq (Dzabihullah) bin Ibrahim (Khalilullah).

Kemudian riwayat yang dinukil dari Ibnu Mas’ud r.a.. Beliau pernah menjelaskan silsilah Nabi Yusuf sampai ke Nabi Ibrahim. Ibnu Mas’ud menyebutkan: Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq (Dzabihullah) bin Ibrahim (Khalilullah). Dalil yang ketiga adalah riwayat yang dinukil dari Imam al-Baghawi dari Sayidina Umar r.a., Ali k.w.h., dan Ibnu Mas’ud, bahwa yang akan disembelih adalah Ishaq.

Yang dimaksud dengan Dzabihullah ذبيح الله ) ( adalah orang yang akan dipersembahkan kepada Allah Swt.  Istilah ini dilatarbelakangi oleh konteks Nabi Ibrahim yang pada saat itu beliau hidup pada masa persimpangan pemikiran manusia menyangkut pengorbanan manusia kepada Tuhan. Saat itu, mayoritas manusia rela mempersembahkan manusia yang lain sebagai sesaji kepada Tuhan yang disembah.  Sedangkan Firaun yang dimaksud dalam riwayat di atas bukan Firaun yang hidup pada masa Musa a.s.. Firaun adalah gelar yang disandang oleh para raja yang pernah memerintah wilayah Mesir. Yusuf a.s. adalah salah satu nabi yang pernah hidup di Mesir. Beliau beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan Raja Mesir saat itu, Firaun.

Disamping itu, jika kita telusuri dalam Perjanjian Lama, akan ditemukan pernyataan yang tegas bahwa manusia yang akan disembelih adalah Ishaq. Tetapi informasinya bertolak belakang, khususnya menyangkut Ismail. Terkadang, Ismail dipuji sebagai “bapak dari umat yang besar”, dan terkadang pula beliau dikecam dan diburuk-burukkan. Hal ini disebabkan ketidakotentikan perjanjian lama yang disebabkan oleh campur tangan manusia.

Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ismail berpegang teguh pada beberapa dalil, diantaranya riwayat yang dinukil dari Atha’, dari Abu Rabbah, beliau berkata, “Orang yang akan dipersembahkan kepada Tuhan adalah Ismail a.s.”. Tetapi orang-orang Yahudi berpendapat bahwa yang akan dipersembahkan adalah Ishaq. Menurut Abu Rabbah, pendapat Yahudi ini adalah pendapat yang tidak benar dan penuh dengan kedustaan.

Dalil kedua adalah riwayat dari Mujahid dari Ibnu Umar bahwa yang akan disembelih adalah Ismail a.s.. Adapun dalil ketiga datang dari Ibnu Ishaq. Ibnu Ishaq berkata, “Aku mendengar Muhammad bin Qardzi berkata, ‘Sesungguhnya Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih Nabi Ismail’.” Hal ini berdasarkan firman Allah Swt setelah kisah penyembelihan:

وَ بَشَّرْناهُ بِإِسْحاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan kami memberinya kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang – orang yang sholeh. (Q.S. as-Shaffat: 112)

Ayat ini memberikan penjelasan bahwa Allah Swt. tidak memerintah Ibrahim untuk menyembelih Ishaq, sebab dalam ayat ini, Allah Swt. justru memberikan kabar bahagia tentang kelahiran Ishaq. Disamping itu, ayat ini terletak setelah ayat mengenai perintah penyembelihan. Dengan demikian, mustahil Ibrahim akan menyembelih Ishaq.

Dari kedua pendapat di atas, Imam al-Maraghi cenderung pada pendapat yang kedua. Menurut beliau, kisah penyembelihan dalam surah Q.S. as-Shaffat: 102-109 mengisyaratkan bahwa yang akan disembelih adalah Ismail. Beliau juga menyatakan bahwa pendapat pertama merupakan pendapat yang disepakati oleh mayoritas orang Yahudi. Mereka tidak menyakini bahwa yang akan disembelih adalah Ismail. Disamping itu, orang-orang Yahudi yang didominasi oleh Bani Israil adalah keturunan dari Nabi Ishaq. Mereka (orang-orang Yahudi) menginginkan agar orang-orang Arab menganggap bahwa Ishaqlah yang akan disembelih oleh Ibrahim. Mereka merasa bangga jika salah satu leluhurnya terkenal dengan gelar “Dzabihullah”. Wallahua’lam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *