Melacak Sejarah Syariat Puasa Sebelum Nabi Muhammad Saw

Oleh: Ustadz Afrizal el ‘Adziem, Lc., MA

kajian islam sumber gambar republika

Puasa Ramadhan merupakan salah satu kewajiban umat Islam yang dilakukan selama satu bulan penuh. Landasan kewajiban ini adalah firman Allah Swt dalam surah al Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang – orang yang beriman, diwajibkan bagi kalian berpuasa, sebagaimana berpuasa itu juga diwajibkan bagi umat sebelum kalian agar kalian bertakwa.

Dalam ayat ini, Allah Swt berfirman bahwa puasa juga diwajibkan kepada umat-umat sebelum Rasul Saw. Namun demikian, puasa Ramadhan menjadi syari’at yang dikhususkan kepada Rasul Saw dan umatnya.

Sejak dahulu, para penyembah berhala melakukan puasa dengan tujuan meredam kemurkaan Tuhan mereka, ketika mereka telah melakukan perbuatan yang dapat membuat Tuhan murka. Mereka juga berpuasa agar mendapatkan ridha dan pertolongan. Mereka yakin bahwa mengekang nafsu dan mematikan tubuh merupakan cara agar lebih dekat kepada Tuhan dan meraih ridhonya. Keyakinan ini berkembang sampai pada Ahlul Kitab. Lalu keyakinan ini diluruskan oleh Islam. Menurut syari’at Islam, puasa bertujuan agar manusia mencapai derajat taqwa. Kewajiban berpuasa adalah untuk memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi manusia.

Kitab Taurat, meski tidak menerangkan kewajiban dan peraturan puasa sampai sedetil-detilnya, akan tetapi di dalamnya ada pujian dan anjuran kepada orang supaya berpuasa. Nabi Musa a.s. pernah berpuasa selama 40 hari. Sampai saat ini, orang Yahudi masih tetap melakukan puasa pada hari-hari tertentu. Misalnya puasa satu minggu sebagai peringatan terhadap hancurnya Jerusalem dan diambilnya kembali. Dan puasa pada hari kesepuluh di bulan ketujuh menurut perhitungan mereka, yang mereka puasakan sampai malam hari.

Begitu juga dengan kitab Injil, yang tidak menjelaskan tuntutan puasa secara komplit. Nabi Isa a.s. menganjurkan berpuasa, tetapi tidak boleh dibuat sombong. Buatlah bahwa seakan-akan orang tidak tahu kalau engkau berpuasa. Bagi yang berpuasa, harus memakai minyak rambut dan membasuh wajahnya agar tidak terlihat bahwa dia dalam keadaan berpuasa (Rasyid Ridha, h. 116).

Puasa terbesar umat Kristen adalah Puasa Besar sebelum hari Paskah. Nabi Musa a.s. pernah mempuasakan hari itu. Begitu juga dengan Nabi Isa a.s. beserta para pengikutnya. Gereja-gereja juga memutuskan hari-hari yang lain untuk berpuasa, menurut yang diputuskan oleh pendeta-pendeta mereka dalam sekte masing-masing. Ada juga yang mempuasakan diri di hari-hari tertentu dari makanan tertentu pula. Mereka melakukan puasa hanya makan sekali dalam sehari semalam. Lalu ada perubahan ketentuan waktunya, yaitu dari tengah malam sampai tengah hari.

Para pakar perbandingan agama menyebutkan, orang Mesir kuno telah mengenal puasa sebelum mereka mengenal agama Samawi. Dari mereka, praktek puasa beralih kepada orang-orang Yunani dan Romawi.

Puasa juga dikenal dalam agama-agama penyembah bintang. Mereka berpuasa selama tiga puluh hari dalam setahun. Ada yang berpuasa sebanyak 16 hari dan ada juga yang berpuasa 27 hari. Puasa yang mereka lakukan bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada bulan, kepada bintang Mars yang mereka percaya sebagai bintang nasib, dan juga kepada matahari.

Nabi Adam a.s. pernah menjalankan puasa sebanyak tiga hari. Dalam suatu riwayat, pada saat beliau diturunkan dari surga ke bumi, beliau terbakar kulitnya oleh matahari, sehingga tubuhnya menghitam. Kemudian, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan ditanya, “Wahai Adam, maukah tubuhmu kembali memutih?”

Nabi Adam menjawab, “tentu saja”. Lalu Malaikat Jibril berkata, “Berpuasalah engkau pada tanggal 13, 14, dan 15. Kemudian, beliau berpuasa. Pada hari pertama, memutihlah sepertiga tubuhnya. Pada hari kedua, memutihlah dua pertiga tubuhnya dan pada hari ketiga, memutihlah seluruh tubuhnya.

Puasa ini kemudian disebut dengan puasa Ayyamul Bidh. Puasa ini juga dilakukan oleh Rasul Saw sebelum beliau menerima kewajiban puasa Ramadan.

Nabi Daud a.s. juga memiliki amalan puasa. Beliau berpuasa satu hari dan berbuka satu hari. Puasa ini kemudian menjadi salah satu sunnah Rasul Saw. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda, yang artinya: “Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasanya Nabi Dawud a.s. Beliau berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) sehari. (HR. Bukhari).

Puasa ini termasuk yang paling utama di sisi Allah karena puasa ini memberatkan jiwa dengan mendapati apa yang disenangi jiwa dalam sehari, kemudian meninggalkannya dalam sehari pula. Meski seorang Nabi, beliau tetap rajin dan giat dalam menjalankan ibadah kepada Allah sekaligus memberikan contoh yang baik bagi orang lain. (Wallahu a’lam)

 


Referensi :

  1. M. Quraish Shihab, Tafsir al Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), vol. 1
  2. M. Ishom El Saha dan Saiful Hadi, Sketsa al Qur’an (Lista Fariska Putra, 2005)
  3. Rasyid Ridha, Tafsir al Manar (Kairo: al Hai’ah al Masriyah al ‘Ammah, t.t), juz. 2
  4. Imam al Tsa’labi, Tafsir al Tsa’labi (Beirut: Dar Ihya’ al Turats, 2002), juz. 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *