Makna di Balik Kewajiban Berpuasa dalam Al Qur’an

Selasa, Juni 12th 2018. | Kajian Islam

makna-dibalik-kewajiban-berpuasa

Oleh : Afrizal El Adzim Syahputra

Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam di bulan Ramadhan. Kewajiban tersebut berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183. Dalam ayat tersebut, kewajiban berpuasa tidak ditegaskan secara langsung bahwa kewajiban tersebut datang dari Allah, tetapi redaksi yang digunakan dalam bentuk pasif : “Diwajibkan atas kamu berpuasa…”. Redaksi tersebut dipilih untuk mengisyaratkan bahwa puasa tidak hanya merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah swt, tetapi manusia sendiri, khususnya umat Islam akan mewajibkannya pada dirinya sendiri pada saat mereka menyadari betapa banyak manfaat dibalik puasa itu.

Bahkan, banyak perilaku dan peristiwa yang mendorong manusia untuk berpuasa tanpa motivasi agama, misalnya agar lebih cantik dan langsing, sehat dan lainnya. Hal ini diperkuat dengan makna esensial puasa, yaitu pengendalian diri. Pengendalian diri sangat dibutuhkan oleh semua manusia, baik secara individu maupun kelompok. Baik kaya maupun miskin, pandai maupun bodoh dan baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, dalam bahasa modern, puasa merupakan salah satu ekspresi dari orang yang bukan hanya cerdas secara spiritual, tapi juga cerdas secara emosional. Hal ini karena puasa akan membentuk kepribadian pelakunya dan membingkainya dalam perilaku positif seperti sabar, empatik terhadap sesama, sosial skill dan lain sebagainya.

Disamping itu, Allah SWT tidak secara langsung menggunakan kata atau kalimat perintah dalam ayat tersebut. Allah SWT menggunakan kalimat “kutiba ‘alaikumus siyam” yang mengisyaratkan kewajiban berpuasa. Menurut sebagian ulama’, perintah dalam Al Qur’an yang didahului dengan kata “kutiba ‘alaikum” mengisyaratkan bahwa perintah tersebut berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan fitrah manusia. Pada ayat ini, Al Quran menjelaskan perintah puasa dengan menggunakan kata “kutiba ‘alaikum” yang mengisyaratkan bahwa puasa merupakan sesuatu yang bertentangan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu, manusia diharuskan untuk mengekang fitrahnya untuk menjalankan puasa. Pada fitrahnya, manusia perlu makan ketika lapar dan minum ketika haus. Tetapi, dengan berpuasa, manusia dapat mengekang fitrah tersebut.

Pengekangan terhadap fitrah tersebut merupakan bentuk dari pengendalian diri. Pengendalian diri akan mengantarkan manusia pada kebebasan dari berbagai belenggu dan pengaruh yang mungkin dapat menghambat kemajuannya. Karena, secara umum, jiwa manusia berpotensi untuk sangat cepat terpengaruh, khususnya, bila ia tidak memiliki kesadaran mengendalikannya serta tekad yang kuat untuk menghadapi bisikan – bisikan negatif. Oleh karena itu, menjalankan puasa secara benar merupakan salah satu kiat sukses bagi manusia. Puasa bukan saja wajib, namun juga kebutuhan bagi manusia. Tidak ada manusia yang memiliki cita – cita untuk gagal dalam hidupnya.

Dalam mewajibkan puasa kepada para hamba-Nya, selain menggunakan panggilan mesra “Wahai orang – orang yang beriman”, Allah memberikan perumpamaan dengan puasanya “kaum terdahulu”, meski sejatinya rincian cara pelaksanaannya berbeda – beda. Bagi umat terdahulu, termasuk yang tidak menganut agama samawi, seperti agama orang – orang Mesir kuno, Yunani, Romawi, puasa merupakan aktifitas yang sudah masyhur di kalangan mereka. Hal ini memberikan kesan bahwasanya ibadah puasa itu dapat atau bahkan ringan untuk dilaksanakan. Kewajiban puasa tersebut dimaksudkan supaya manusia bertaqwa, yakni terhindar dari segala sanksi dan dampak buruk, baik duniawi maupun ukhrawi.

Herbert Shelton mengakui bahwa puasa merupakan suatu proses untuk merawat organisme yang sakit, karena puasa difungsikan pada dataran insting. Sejumlah filosuf besar di masa lampau seperti Hippocrates, Plato, Socrates, Aristoteles memuji manfaat puasa. Paracelsus, salah satu dari tiga bapak kedokteran Barat menyatakan bahwa “Puasa adalah satu tindakan remidial terbaik”. Puasa diakui memiliki daya revitalisasi dan rejuvenalisasi yang menjanjikan.

Wallahu A’lam. (MNi)

tags: , , ,

Related For Makna di Balik Kewajiban Berpuasa dalam Al Qur’an