Idulfitri: Merayakan Makna dan “Diri” yang Sejati

Oleh: Ustadz Surya Qalandar¹

ilustrasi idul fitri rumi tarian sufi nutrenggalek orid
saatchiart.com

 

“Al-Hubûṭ” dan Fitrah Manusia

Dalam Al-Qur’an, digambarkan adanya drama kosmis atau peristiwa kejatuhan Adam dan Hawa dari surga ke bumi yang diistilahkan dengan “al-hubûṭ” (the fall of Adam and Eve). Dikisahkan bahwa Adam, sebagai simbol manusia pertama, dikeluarkan dari surga, tempat yang digambarkan di dalamnya dipenuhi berbagai macam kenikmatan dan kemudahan, di antaranya berbagai macam makanan dan jenis buah-buahan. Sebagaimana direkam dalam Al-Qur’an, setelah Adam dan Hawa—sebagai nenek moyang manusia—diciptakan, mereka berdua kemudian diizinkan tinggal di dalam surga.

وَقُلۡنَا یَـٰۤـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” —(QS. al-Baqarah (2): 35).

 

Meski Adam dan Hawa telah diberkahi kenikmatan yang banyak dan melimpah serta dilengkapi segala kemudahan, namun pada akhirnya, sebagai simbol manusia, mereka ternyata tidak mampu menahan dorongan dan godaan berlaku tamak untuk tidak memakan hanya satu macam buah yang dilarang oleh Allah Swt. Menurut penafsiran beberapa ulama salaf, buah yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah “buah kekekalan”. Dalam Al-Qur’an disebut “shajarat al-khuld” (the tree of eternity)—yang kalau dimakan justru akan mengingkari hakikat kemanusiaannya sendiri—sehingga keduanya digelincirkan dan dijatuhkan oleh setan dari surga ke muka bumi ini sebagai hukuman atas pelanggaran tersebut.

Menurut Sayyid Qutub, larangan mendekati pohon tersebut bisa jadi karena buahnya mengantar kepada kesadaran tentang adanya dorongan-dorongan seksual dalam diri manusia. Allah Swt. menghendaki agar kesadaran tentang dorongan itu tertunda kemunculannya hingga waktu tertentu. Boleh jadi kelupaan terhadap pesan Allah tersebut dan pelanggaran mereka mengakibatkan melemahnya tekad dan putusnya hubungan mereka dengan Allah, pencipta mereka, sehingga mereka dikuasai oleh dorongan jasmani serta mengantar mereka menyadari dan merasakan adanya dorongan seksual.

Bisa jadi juga keinginan mereka untuk kekal, lahir dan tercermin dalam bentuk bangkitnya dorongan seksual guna memperoleh keturunan, karena itulah cara yang tersedia buat manusia untuk dapat meraih kelanggengan hidup setelah berakhir usianya secara individual yang terbatas di dunia ini. Itu semua, menurut Sayyid Qutub, adalah kemungkinan-kemungkinan—sekadar kemungkinan, tanpa menetapkan atau mengukuhkan salah satu di antaranya.

Secara fitrah, manusia adalah makhluk paling tinggi derajatnya di sisi Allah, di atas para malaikat, Iblis beserta para jin—sekalipun Iblis dulu adalah pemimpin para malaikat (The Archangel)—dan sekian makhluk lain serta tempat tinggal kita yang sesungguhnya adalah surga. Keluhuran derajat manusia tersebut juga bukan tanpa alasan, meski ia diciptakan dari tanah—dan inilah yang mula-mula membuat Iblis merasa cemburu, kemudian sombong, dan pada akhirnya membangkang.

Manusia diciptakan berdasar citra-Nya/Imago DeiInna Allâh khalaqa Âdam ‘alâ ṣûratiH—dan dianugerahi ilmu pengetahuan serta mendapat penghormatan berupa tugas kekhalifahan. Ia punya dua sayap: sayap perintah dan sayap larangan. Walaupun para malaikat merupakan makhluk-makhluk suci yang tidak mengenal dosa, tetapi mereka tidak wajar menjadi khalifah, karena yang bertugas menyangkut suatu masalah haruslah yang memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan tugasnya. Khalifah yang akan bertugas di bumi harus mengenal dengan apa yang ada di bumi, paling sedikit nama-namanya atau bahkan potensi yang dimilikinya. Ini tidak diketahui oleh para malaikat, tetapi Adam as. mengetahuinya.

Pula—karena citra rohani manusia berdasar citra-Nya—fitrah manusia mampu mencapai titik kedekatan dengan Allah yang mana titik tersebut takkan mampu dicapai makhluk yang lain (baca kisah isra-mikraj: … Pada perjalanan terakhir, Jibril tak kuasa lagi mengikuti Nabi Saw Jibril mengatakan, “Masing-masing dari kami memiliki maqâm [spiritual station] yang telah ditentukan. Jika aku langkahkan kakiku selangkah saja, niscaya aku akan hangus terbakar.” Kemudian Nabi Saw pun naik seorang diri ke haribaan Tuhan, sebuah tahap kedekatan yang tak pernah dialami oleh makhluk mana pun. Seturut para ulama, penyebab ketidakmampuan Jibril untuk melangkah lebih jauh karena ia hanyalah sosok rohani/spiritual, sedangkan Nabi Saw. mampu melangkah hingga ke titik terdekat karena beliau Saw menggabungkan dimensi spiritual dan intelektual).

Meski demikian­, manusia tetaplah “makhluk kemungkinan”: ia mungkin untuk taat dan juga mungkin untuk maksiat. Berdasar drama kosmis di atas, dapat dipahami bahwa—selain manusia adalah makhluk tertinggi di antara semua makhluk—sesungguhnya pada diri manusia (sebagaimana disimbolisasikan dalam diri Adam dan Hawa) juga terdapat dorongan dan kecenderungan negatif, salah satunya berlaku tamak. Potensi ini jika tidak dapat dikendalikan secara baik dan benar, maka akan dapat mengarahkan dan mendorong manusia pada kehancuran, yakni kehancuran moral dan spiritual.

Salah satu cara untuk mengendalikan dorongan-dorongan negatif itu adalah dengan cara puasa—yang memang secara etimologi berarti “menahan” (al-imsâk). Dengan puasa, manusia akan terlahir kembali sebagai “diri” nan suci sebagaimana fitrahnya; dengan puasa, manusia akan mengalami “Hari Raya” dalam hidupnya; dan dengan puasa, manusia akan semakin memahami hakikat penciptaannya.

 

Dari Inferno, Melalui Purgatorio, Menuju Paradiso

Idiom di atas berasal dari Dante Alighieri, Penyair besar Italia abad Pertengahan (Moyen-Age), lebih tepatnya tiga bagian dalam karyanya: Divina Commedia. Akan tetapi, di sini kita tidak akan membahas jauh-jauh tentang siapa Dante dan juga Divina Commedia-nya, kita hanya akan meminjam idiomnya dan beberapa pengertian saja untuk sekadar membuat gambaran tentang sebuah fase. Seturut bahasa, “inferno” adalah “neraka”; “purgatorio” ialah “api penyucian”; dan “paradiso” bermakna “surga”.

Dalam fase “inferno”, pencitraan Dante tentang neraka cukup apik. Karena, menurutnya, ia berasal dari substansi yang sama dengan jiwa manusia yang penuh nafsu, yaitu api, dan ada berlapis-lapis neraka sesuai dengan tingkat kejahatan manusia: atas, bawah, dan paling bawah. Hal ini menjadi menarik karena pencitraan tersebut senada dengan pencitraan Ibnu ‘Arabi dalam kitab Nidâ’ al-Rayyân fî Fiqh al-Ṣawm wa Faḍl Ramadân, Juz 1, hlm. 59:

إنما كان الصوم جنة من النار لأنه إمساك عن الشهوات، والنار محفوفة بالشهوات

“Sesungguhnya puasa adalah perisai dari api neraka, sebab ia menahan diri dari beragam syahwat. Sementara neraka itu dipenuhi dengan pelbagai syahwat.”

 

Dalam kitab ‘Ilm al-Nafs fî al-Turâth al-Islâmî, juz 1, hlm. 270, dikatakan:

وأصل الهوى على أساس أنه من نفس نار الشهوة فإذا خرج ذلك النفس من النار، احتمل من ذلك الحفوف من الشهوات بباب النار فيها الزينة والأفراح، فأورد على النفس. فإذا نالت النفس ذلك الفرح والزينة؛ هاجت بما فيها من الفرح والزينة الموضوعة إلى جانبها فى ذلك الوعاء، وهى ريح حارة، فدبت فى العروق فامتلأت العروق منها فى أسرع من الطرفة، والعروق مشتملة على جميع الجسد، من القرن إلى القدم، فإذا دبت فى العروق، ولذت النفس دبيبها وانفشاشها فى الجسد، وامتلأت النفس لذة، وهشت إلى ذلك الشيء فتلك شهوتها ولذتها، فإذا تمكنت النفس بتلك الشهوة واللذة من جميع الجسد، فصارت تلك الشهوة نهمة على القلب، والنهمة غلبة الشهوة وغليانها، فإذا غلت الشهوة غلبت على القلب، فيصير القلب منهوما وهو أن تقهر القلب حتى تمتهنه، فتستعمله بذلك، فيصير سلطان الهوى والشهوة مع النفس ومسكنها فى البطن، وسلطان المعرفة والعقل والعلم والفهم والحفظ والذهن فى الصدر، وجعل المعرفة فى القلب، والفهم فى الفؤاد، والعقل فى الدماغ، والحفظ والذهن فى الصدر، والحفظ قرينه، وجعل للشهوة بابا من مستقره إلى الصدر، فيفور دخان تلك الشهوات التى جاء بها الهوى، حتى يتأدى ذلك إلى الصدر، فيحيط بفؤاده، ويبقى عينا الفؤاد فى ذلك الدخان، وذلك الدخان اسمه الحمق

Pada dasarnya, hawa-nafsu (inclination) itu berasal dari napas api syahwat (lust). Ketika napas tersebut berembus dari api neraka, syahwat terbawa ke pintu neraka tempat perhiasan (loveliness) dan kesenangan (joy) berada, lalu ia mendatangi nafsu. Ketika nafsu mendapatkan kesenangan dan perhiasan, ia bergolak akibat perhiasan dan kesenangan yang diletakkan di sisinya dalam wadah itu, dan ia serupa angin panas. Ia lalu mengalir dalam urat-urat, sehingga semua saluran darah terisi olehnya dalam waktu lebih cepat daripada kedipan mata. Saluran darah mengaliri seluruh tubuh dari kepala hingga kaki. Jika angin itu sudah berembus di dalamnya, lalu jiwa manusia merasakan embusannya dalam tubuh, kemudian ia merasa nikmat dan senang dengannya, itulah yang disebut syahwat dan kenikmatannya.

Apabila nafsu serta syahwat berikut kenikmatannya sudah menempati seluruh tubuh, syahwat menyerang hati. Apabila syahwat sudah demikian hebat, ia menguasai hati, sehingga hati tertawan dan takluk kepada syahwat. Selanjutnya, syahwat dapat memainkannya. Kekuatan hawa nafsu dan syahwat ada bersama jiwa dan bertempat dalam perut. Sedangkan kekuatan makrifat, akal, ilmu, pemahaman, hafalan, dan pikiran berada di dada. Makrifat ditempatkan di kalbu; pemahaman di fu’âd; serta akal di pikiran; dan hafalan menyertainya. Syahwat diberi sebuah pintu yang menghubungkan tempatnya ke dada, sehingga asap syahwat yang bersumber dari hawa nafsu bergolak sampai ke dada. Ia menyelubungi fu’âd dan kedua mata fu’âd berada dalam asap itu. Asap tersebut adalah kebodohan.”

Sekarang, setelah sekian lama kita kerap berada di titik puncak kelalaian dan seringkali memperturutkan nafsu-syahwat (ittibâ’ al-shahawât) serta segala dorongan-dorongan yang bersifat negatif, seperti menjunjung-agungkan ego atau kepentingan diri, vested interest, kepicikan hati, dan kesempitan diri, yang itu artinya kita sedang berada di fase “inferno”: bu’d min Allâh, jauh dari Allah.

Maka—untuk bisa terbebas dari “inferno” ini—kita sangat memerlukan “api penyucian” atau “purgatorio”, yakni puasa. Sebelum pada akhirnya kita menyandang predikat fitri (kembali kepada kesucian nurani, atau yang alamiah. Sebab menurut alamiahnya [by nature], manusia itu mencintai cahaya: kebajikan dan kebenaran) atau berada di fase terakhir, “paradiso”: kebahagiaan spiritual—menemukan “diri” yang sejati.

Puasa, atau yang di sini dianalogikan sebagai “purgatorio”, adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan; mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang lebih besar nanti kita akan bertemu dengan tesis ini: ekonomi-industri-konsusmsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara Agama—lewat puasa—mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Berbeda dengan salat dan zakat, puasa bersifat lebih revolusioner, radikal, dan frontal.

Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadak dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak serta meninggalkannya dalam jangka waktu tertentu. Pada orang salat, dunia di belakangnya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, tetapi sebagian ia pilah untuk dikeluarkan. Sementara pada orang yang berpuasa, dunia ada di hadapannya, namun tidak boleh dikenyamnya.

Orang yang berpuasa—atau yang menjalani fase “purgatorio” ini—disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap “tidak” kepada isi pokok dunia yang berposisi “ya” dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi: dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari merupakan tujuan dan kebutuhan. Begitulah, sebagaimana kata “ramaḍân”, “purgatorio” bertujuan membakar sifat-sifat rendah kita. Karena ia bersifat “membakar”, tentu hal tersebut amat dibenci oleh nafsu kita. Namun, bagi fitrah kita—makhluk dengan potensi spiritual tertinggi—yang demikian itu amat disenangi dan bahkan diperlukan, oleh sebab itulah dinamakan “api penyucian”.

 

Idulfitri: Marḥaban, Makna! Selamat Datang, “Diri” yang Sejati!

Idulfitri adalah siklus tahunan, saat umat Islam memulai kembali perjalanan spiritual hidup setahun ke depan, dengan semangat baru: kefitrahan yang ada dalam dirinya setelah selama satu bulan ia melakukan penyucian diri dengan berpuasa dan melakukan amal ibadah, yang menjadikannya menemukan kembali dirinya yang asal, yang fitrah. Itu sebabnya kita mengucapkan: Ja’alanâ Allâh wa Iyyâkum min al-Â’idîn wa al-Fâ’izîn wa al-Maqbûlîn (Semoga Allah menjadikan kita dan kalian semua kembali ke fitrah kita dan menang—melawan dosa kita sendiri, serta diterima amal ibadah kita). Tanpa kesungguhan jiwa, proses penyucian ini (“purgatorio”) tentu tidak serta-merta membuahkan hasil maksimal yang membawa kepada suasana jiwa “paradiso”, alam kebahagiaan yang disimbolkan dengan surga, sebab proses penyucian diri memerlukan kesiapan untuk dapat naik ke maqâm kefitrahan yang pada dasarnya adalah asal kejadian kita.

Kesiapan spiritual yang sudah kita peroleh melalui pengalaman kedekatan dengan Tuhan selama Ramadan, perlu terus dipelihara dan ditumbuhkan karena pada hakikatnya itu adalah proses penyucian diri. Tasawuf (mistisisme Islam) menyebutnya: tazkiŷat al-nafs dan jihâd al-nafs, yang sebenarnya adalah proses yang terus-menerus perlu dijalani sepanjang hidup, sebab hal inilah yang akan menghidupkan fitrah kemanusiaan kita. Begitu sulitnya proses ini, Al-Qur’an menyebutnya dengan al-’Aqabah, yaitu jalan yang sulit, tetapi mulia dan benar, yang akan membawa hasil yang besar, kebahagiaan hidup.

Suasana lebaran adalah suasana kemanusiaan. Seperti kita ketahui, fitrah itu bersangkutan dengan salah satu ajaran Islam paling penting, yaitu ajaran bahwa manusia dilahirkan dalam kejadian asal yang suci dan bersih (fitrah), sehingga manusia itu bersikap ḥanîf, yaitu secara alami merindukan dan mencari yang benar dan baik.

Ajaran ini meneguhkan sebuah prinsip Agama: bahwa yang alami dan yang sejati adalah yang benar dan yang baik. Sebaliknya, yang tidak alami dan yang palsu adalah yang jahat, tidak sesuai dengan kodrat kemanusiaan. Segi ini menerangkan sisi spiritual kita yang fitrah, yang bersifat cahaya (nurânî) yang jika kita sering menjalankan kehidupan yang palsu dan jahat, sisi spiritual itu akan meredup, menjadi ẓulmânî (jiwa yang gelap). Suasana kegelapan ini dalam bahasa Agama disebut “dosa” (ẓulm).

Salah satu inti Idulfitri adalah bersihnya kita dari dosa, setelah melakukan tobat dalam bulan Ramadan, yang kita lengkapi dengan permohonan maaf kepada sesama, dan saling memaafkan. Pada saat inilah kita kembali kepada fitrah, dan pada saat yang sama, kefitrahan itu akan memberi kita makna dan tujuan hidup, yang dengan itu kita pun mencintai hidup ini sebagai sesuatu yang berharga. Kita menjadi tahu perlunya menghindar dari kehidupan yang kosong tanpa makna. Kata Bertrand Russel, “Anda tidak pernah tahu keputusasaan yang mendalam pada orang-orang yang hidupnya tanpa tujuan dan kosong dari makna.”

Menurut Mawlana Jalaluddin Rumi—Sufi besar dan sangat berpengaruh, baik di belahan dunia Timur maupun Barat, yang telah menulis hampir empat puluh ribu syair liris dan lebih dari dua puluh lima ribu baris syair didaktik itu—Idulfitri adalah tanda bahwa “diri” yang sejati telah menyembelih “diri” yang palsu, yakni yang telah tercemari sifat-sifat yang rendah. Idulfitri adalah momen tersingkapnya rahmat seluas-luasnya kepada para pejalan (sâlik) menuju kefakiran eksistensinya. Dalam salah satu syairnya, Rumi menyimbolkan Ramadan sebagai Maryam dan Idulfitri sebagai Isa as.:

/Do not despair, my soul, for hope has manifested itself; the hope of every soul has arrived from the unseen./

/Do not despair, though Mary has gone from your hands, for that light which drew Jesus to heaven has come./

/Do not despair, my soul, in the darkness of the prison, for that king who redeemed Joseph from prison has come./

/Jacob has come forth from the veil of occlusion, Joseph who rent Zulaikhas veil has come./

/You who all through night to dawn have been crying “O Lord,” mercy has heard that “O Lord” and has come./

/O pain which has grown old, rejoice, for the cure has come; O fastened lock, open, for the key has come./

/You who have abstained fasting from the Table on high, break your fast with joy, for the first day of the feast has come./

 

(Translated from the Persian by A. J. Arberry, Mystical Poems of Rûmî: 105).

/Jangan putus-asa, jiwaku, harapan telah menampakkan dirinya; harapan setiap jiwa telah datang dari tempat yang gaib./

/Jangan putus-asa, walau Maryam lepas dari tanganmu, sebab cahaya yang membawa Isa naik ke surga telah datang./

/Jangan putus-asa, jiwaku, dalam kegelapan penjara ini raja yang membebaskan Yusuf telah datang./

/Yakub telah lepas dari rintangan; Yusuf yang mencampakkan tudung Zulaikha telah datang./

/Kau yang sepanjang malam hingga subuh menangis dan berseru, “O Tuhan,” kemurahan telah mendengar seru “O Tuhan” dan telah datang./

/O duka yang renta, bersenang-senanglah sekarang, obat telah datang; o pintu yang terkunci, terbukalah kau, kunci telah ditemukan./

/Kau yang pantang berpuasa demi hidangan agung, berbukalah sekarang dengan sukacita, karena hari pertama pesta telah datang./

 

 


¹ Penulis adalah Santri NU; khadim PPM Raden Paku; dan saat ini sedang menempuh studi pascasarjana di STAI Diponegoro Tulungagung.

2 Replies to “Idulfitri: Merayakan Makna dan “Diri” yang Sejati”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *