Hoax dan Solusinya Menurut Al-Qur’an

Senin, Maret 12th 2018. | Kajian Islam

Oleh: Ahmad Toha*

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَخَرَّجَهُ التِّرْمِذِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:” سَتَكُونُ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْمَخْرَجُ مِنْهَا؟ قَالَ: كِتَابُ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Diriwayatkan dari Sayyidina Ali R.A, ia berkata: sesungguhnya aku mendengar baginda Rosulullah SAW bersabda: akan datang suatu masa ketika fitnah semupama pekat malam gelap. Akau bertanya; lalu apa pinu keluar dari kegelapan fitnah itu ya Rolulallah? Beliau menjawab: “Kitab Allah”.

Sungguh apabila kita melihat kondisi saat ini, seakan mirip dengan apa yang telah disabdakan Nabi tentang akan datangnya zaman yang bertebaran fitnah yang bagiakan gelap pekat. Sangat sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Terlalu banyaknya fitnah bahkan sampai membelenggu seseorang baik itu yang tadinya orang saleh maupun bukan.

Belakangan ini masyarakat diresahkan dengan adanya berita “hoax” yaitu berita yang mengandung ketidakbenaran. Berita-berita tersebut lebih sering disebarkan lewat media internet entah itu facebook, whatsapp, twitter ataupun situs-situs berita yang tersebar di dunia maya. Media di atas bisa dikatakan ajang yang paling ampuh untuk menyebarkan suatu berita karena memang jangkaunya yang sangat luas hingga manusia seluruh dunia bisa membacanya.

Pada zaman sekarang ini, internet merupakan  sebuah perangkat yang digunakan diseluruh dunia. Semua orang sangat mudah menerima dan menyebarkan sesuatu lewat perangkat ini. Apalagi penggunaan samartphone yang sudah sangat canggih yang setiap harinya digenggam. Tinggal klik saja kita sudah cepat mendapatkan informasi. Segala akses informasi bisa saling kita terima dan kita sebarkan lagi.

Akan tetapi dengan kemudahan yang sangat luar biasa ini, tidak sedikit dari masyarakat sendiri justru memanfatkanya pada unsur yang negatif seperti menyebarkan berita bohong atau lebih dikenal dengan berita hoax. Bahkan beberapa kalangan, saling menjatuhkan dan menfitnah hingga muncul permusuhan antar masyarakat karena terhasut oleh berita-berita tersebut. Mereka mengedit berita dari yang sebenarnya, menyebarkannya sehingga banyak yang membaca dan akhirnya timbullah kesalahpahaman antar masyarakat.

Terkadang dalam benak  masyarakat yang masih awam, muncul suatu pendapat bahwa menyebarkan berita tersebut tidak ada masalah dan tidak akan berpengaruh. Pendapat tersebut sangatlah salah. Justru dengan adanya ketidakbenaran berita yang tersebar di dunia maya malah mempercepat sampainya suatu berita. Kalau berita itu benar tidak mengapa, akan tetapi jika berita itu salah dan menimbulkan kesalahpahaman maka hal itu bisa dikategorikan fitnah. Fitnah sendiri sangat dibenci dalam Islam. Bukankah dalam al Quran sudah dijelaskan tentang bahaya fitnah “…dan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan…”(Al Baqarah: 191). Dengan adanya fitnah maka bisa menimbulkan bahaya yang sangat besar. Perang besar maupun pembunuhan berantai bisa saja terjadi sehingga menimbulkan banyak korban jiwa maupun raga. Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa seburuk-buruk orang adalah yang menyebarkan ketidakbenaran suatu berita. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih dikatakan yang artinya “seburuk-buruk kebiasaan seseorang adalah menjadikan perkataan (persangkaan mereka) sebagai kendaraanya”

Dengan demikian hoax ini sama bahayanya dengan fitnah. Dalam sejarah banyak kehancuran terjadi. Meluluh-lantakkan suatu negri dan menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan yang ada. Namun banyak orang tidak menyadari bahaya ini sehingga seringkali banyak kalangan yang hanya berbeda pendapat, mereka saling menyerang dengan cara hoax ini. Oleh karena itu untuk mencegah bahaya hoax ini terjadi, sebagai orang muslim ada kiat-kiat yang seharusnya dilakukan oleh para penerima berita.

Yang pertama harus mengecek dan mencari kejelasan atas berita yang kita terima. Tidak tergesa-gesa menyebarkan berita yang tidak ada sandaran kebenarannya dengan memperhatikan kaidah mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudhorotan dalam menyebarkan berita dan menyiarkan pada masyarakat umum. Dalam hal ini sudah disinggung dalam al Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman,jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah denga teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”  (QS Al Hujurat: 6)

Yang kedua yaitu berprasangka baik. Dengan berprasangka baik maka kita tidak mudah men-justice orang dan kita pun akan terhindar dari fitnah-fitnah yang tersebar.

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Mengapa di waktu kamu mendengarkan berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhaap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS An Nuur: 12).

Yang ketiga yaitu menjauhi dari menyebarkan dan membongkar aib-aib orang lain. Hal ini ditegaskan dalam al Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS An Nur: 19).

Para ulama berkata bahwa ayat inilah yang menjadi dasar tentang larangan menyebarkan isu-isu yang bisa menjadi buah bibir masyarakat dan memecah belah masyarakat tentang suatu berita entah itu berita itu benar maupun tidak.

Saya kira demikianlah kiat-kiat bagaimana kita sebagai manusia yang sudah seharusnya menjaga kerukunan antar anak bangsa dengan tidak mudah terprovokasi suatu berita dan lebih bijak dalam menerima berita serta berfikir lebih jauh dalam menyebarkannya. Selalu berfikir apakah itu mendatangkan maslahah atau justru mafsadah.

*Ahmad Toha. Lahir di Trenggalek Jawa Timur pada tanggal 27 Januari 1987. Alumni perdana Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran al Hikam Depok, pascasarjana IIQ Jakarta.

Incoming search terms:

tags: , ,

Related For Hoax dan Solusinya Menurut Al-Qur’an