Gus Ali: Kalau Tidak Ngaji di Madrasah Diniyah, Ketinggalan Zaman

Gus Ali, pengasuh PP. Darul Muttaqin Jatiprahu, Karangan, menyampaikan pengarahan pada Pengukuhan Madrasah Diniyah Misbahul Huda, Jatisari, Pogalan, Trenggalek.

Pogalan – Dunia pendidikan di Indonesia saat ini mengarah pada model pendidikan madrasah diniyah salafiyah. Karena itu, sudah semestinya jika para orang tua memasukkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan madrasah diniyah.

 

Himbauan itu disampaikan Kyai Ali Mukhtar, Wakil Koordinator Pokja (Kelompok Kerja) Madin (Madrasah Diniyah) Kabupaten Trenggalek, dalam sambutannya pada pengukuhan Madrasah Diniyah Misbahul Huda, di Masjid Baiturrohman, Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, Selasa (7/8/2018).

 

“Kalau dulu madrasah diniyah dianggap ketinggalan zaman, sekarang sebaliknya, kalau tidak (belajar di) madrasah diniyah, ketinggalan zaman,” tegas Gus Ali, sapaan akrab beliau.

 

Baca juga: MWC NU Karangan Luncurkan Minimarket OMNUS NUsantara

 

Gus Ali melanjutkan, hari-hari ini, pemerintah sedang gencar-gencarnya menghidupkan pendidikan madrasah diniyah, khususnya yang bersifat salafiyah ala pesantren. Ini karena adanya keinsafan bahwa ilmu yang orisinal ada di madrasah diniyah yang keberadaannya jauh lebih dahulu dibandingkan sekolah formal.

 

Makanya, pendidikan karakter yang baru dikenalkan di sekolah formal akhir-akir ini, sebenarnya sudah dimiliki, dibina, dan diimplementasikan oleh para kyai lewat madrasah diniyah sejak sebelum Indonesia merdeka.

 

“Madrasah diniyah itu adanya lebih dulu sebelum Indonesia merdeka. Wong pondok kula mawon madeke tahun 1936,” terang pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqin, Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan, tersebut.

 

Eksistensi madrasah diniyah yang saat ini semakin sejajar dengan sekolah formal dibuktikan dengan adanya even-even santri, seperti Porsadin (Pekan Olahraga dan Seni antar Diniyah) dan Pospeda (Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Daerah) yang diselenggarakan sampai tingkat nasional, hingga ditetapkannya Hari Santri Nasional.

 

“(Ajang yang dilombakan) Sama seperti sekolah formal. Malah lebihnya, ada lomba baca kitab kuning, cerdas cermat Al Quran, dan debat hukum fikih menggunakan bahasa Arab dan Inggris,” imbuh Gus Ali.

 

Di Trenggalek sendiri, lanjut Gus Ali, saat ini ada 426 lembaga madrasah diniyah yang sudah terdaftar. Sementara jumlah santri mencapai 36.128 anak untuk tingkat ‘ula dan 25.300 santri tingkat wustho.

 

“Kalau kita tidak memasukkan anak kita ke madrasah diniyah, kita akan tertinggal,” pungkas Gus Ali.

 

(Androw Dzulfikar/Zein Ave)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *