Dia Bukan Teroris

(Ilustrasi) Sumber foto: tasdiqulquran.or.id

“Dari mana, Hus?”

Pertanyaan ibunya itu menghentikan langkah Husna yang hendak masuk kamar.

“Dari toko sebelah, Bu, beli sabun cuci,”

“Lho, kemarin kan sudah beli?”

“Emmm…,” Husna agak gugup.

“Kamu jadi sering ke toko sebelah untuk keperluan yang sebetulnya tidak perlu, Hus… Ada apa?”

Husna terdiam. Memang beberapa hari ini, dia dibuat penasaran dengan seorang pria. Rizki namanya. Ia, secara kebetulan, bertemu dengan pemuda itu saat sama-sama membeli sesuatu di toko yang tak jauh dari rumahnya. Rizki bilang bahwa ia menempati kontrakan di sebelah toko itu. Pemuda itu sopan, ramah, dan lumayan tampan. Dari tutur katanya, pastilah ia seorang yang berpendidikan agama. Begitu kira-kira yang ada di benak Husna.

 

* * * * *
Seperti biasanya, petang itu, Husna berjalan kaki ke masjid untuk sholat maghrib. Namun kali ini ada yang ia harapkan dalam perjalanan ke masjid yang hanya beberapa puluh meter dari rumahnya. Ia berhadap dapat bertemu pemuda tampan itu. Dan betul. Tiba-tiba terdengar suara menyapa, “Hai…!”

“Hai juga!” Husna membalas dengan gugup karena ternyata suara itu…

“Kapan kembali ke pondok ?”

Husna semakin terkejut. Pemuda itu tahu kalau ia mondok di sebuah ponpes khusus putri.

“Emm…, mungkin lusa,” jawab Husna. “Kamu masih kuliah, ya?”

“Tidak, aku nyales pakaian. Bertiga, dengan temanku.”

“O, ya udah, ya, kapan-kapan kita sambung lagi” sahut Husna menyadari jamaah sudah banyak yang datang.

Pembicaraan singkat di gang masuk masjid itu Husna rasakan sebagai sesuatu yang sangat berkesan.

 

* * * * *
Petang itu, Rizki betul-betul sumringah. Seusai menghitung tabungan selama seminggu ini, yang berjumlah Rp 113 ribu, ia merebahkan tubuhnya di kamar. Sendirian. Seperti biasa, ketiga temannya berada di kamar belakang. Tiap hari, ada saja yang mereka bicarakan. Tampaknya sangat serius. Rizki merasa sangat beruntung. Betapa tidak, ia sama sekali tidak menduga bisa bertemu dengan pemuda-pemuda sebayanya, yang benar-benar mau memahami kesulitannya.

Ia masih ingat, seminggu yang lalu, saat ia mencoba mencari pekerjaan di pinggiran kota ini. Amat sulit. Kalau toh ada yang menawari, pekerjaan itu menyulitkannya untuk melakukan sholat. Rizki memang pemuda sholih.

Sampai akhirnya ia bertemu dengan ketiga sales pakaian yang sekarang menjadi teman akrabnya. Ia tidak perlu menanggung biaya air dan listrik di rumah kontrakannya. Kelak, bila ia pulang menjelang lebaran, tentu kedua orang tua dan adik-adiknya senang. Disamping mampu membiayai sendiri kebutuhan awal tahun di pesantrennya, ia juga bisa memberi pesangon lebaran untuk adik-adiknya.

“Tok… tok…tok… Assalamu’alaikum, sudah tidur, Riz?” suara itu menyadarkannya dari lamunan.

“Belum,” sahutnya. “Badrus, ya? Masuk! Nggak dikunci.”

“Ngelamun sendiri, Riz?”

“Ah, ora. Pengin istirahat saja. Besok kawasan yang mau kita masuki kan jauh.”

“Oh ya betul… Eh, kirimannya datang tuh, kita keluar yuk!” ajak Badrus begitu terdengar suara mobil berhenti di depan kontrakan.

Ada beberapa kodi pakaian yang mereka turunkan, dan beberapa barang di dalam tas. Mobil itu sekarang ganti Panther, kemarin Kijang, kemarinnya lagi entah apa. Yang mengantar empat orang, bukan tiga, atau lima, seperti yang kemarin-kemarin. Rizki selalu tidak melibatkan diri pada pembicaraan di ruangan dalam. Ia lebih suka tahu harga jadinya saja. Bukannya dilarang, melainkan Rizki sungkan bila ikut-ikut ngrembug harga-harga pakaian. Ia tahu, ia masih baru.

 

* * * * *
“Bangun… hai, sudah subuh tuh!” suara Hasan membangunkan Rizki. Mereka pun bersiap ke masjid seperti biasa.

“Loh, pengantar pakaian kita tidur di kontrakan kita, ya?” tanya Rizki ketika tahu bahwa Panther yang semalam masih ada di luar.

“Ya, betul. Mereka takut kemalaman di jalan,” sahut Yusak.

Memang, setahu Rizki, tadi malam saat dia mulai tidur, sepertinya mereka masih bincang-bincang didalam.

 

* * * * *
“Bismillaahirrahmaanirrahiim… Alhamdulillaahirabbil aalamiin…”

Begitulah suara yang terdengar setiap usai jamaah subuh. Semenjak ketiga pemuda itu tinggal di kontrakan yang dekat masjid itu, banyak anak kecil dan remaja, putra-putri, yang mengaji. Dan kini ustad mereka tambah satu, Ustad Rizki.

Masyarakat di situ betul-betul simpatik pada mereka, dan memanggil guru mengaji dengan sebutan ustadz. Di samping ramah dan sopan, mereka mau mengajari anak-anak untuk mengaji.

Husna, yang juga selalu berjama’ah subuh di masjid, sering memperhatikan kegiatan para ustad itu. Namun hanya satu nama yang ingin ia lihat. Siapa lagi kalau bukan Rizki. Dan, gadis cantik nan lugu itu tidak menyadari bahwa sebenarnya Rizki tahu perilakunya itu.

 

* * * * *
“Sudah siap Hus?” tanya ayahnya kepada Husna.

“Sudah, Pak.”

“Ini, Hus, ketela goreng,” sahut ibunya. “Untuk teman-temanmu di pondok. Ibu hampir lupa.”

“Oh iya, Bu. Husna juga hampir lupa.”

Sejurus kemudian, Husna dibonceng ayahnya menuju pondok yang sudah sekian tahun menjadi tempat belajarnya, kira-kira 20 kilometer dari rumahnya. Tidak seperti biasa, Husna ingin cepat-cepat sampai di pondok. Ada sesuatu yang ingin segera ia buka dalam tasnya. Surat. Ya, surat! Tadi pagi, saat ia membeli kardus untuk membawa perbekalan, ia ketemu Rizki. Nampaknya Rizki sudah nyanggong di sana. Ia memberi sepucuk surat yang sengaja ingin Husna baca setelah sampai di pondok.

 

* * * * *

“… Kuharap, kamu tetap semangat dalam belajar. Aku tidak mau perkenalan kita akan menggangu aktivitas kita dalam belajar. Aku doakan semoga kamu sukses. Demikian pula aku, minta doa dari kamu, semoga aku diberi kesempatan oleh Allah mulai masuk lagi ke pondok bulan Syawal”

ttd
Jejaka desa yang terkesan dengan kamu,
Zidna Rizki Mubarok.

 

Demikianlah penutup surat Rizki kepada Husna setelah dua folio sebelumnya, Rizki menceritakan semua kisahnya, hingga ia ada di kontrakan dekat rumah Husna. Ia ceritakan pula dengan jujur bahwa ia adalah anak keluarga petani miskin dari desa. Bekerja saat akhir tahun liburan pondok untuk mengurangi beban orang tuanya di awal tahun pelajaran.

Usai membaca surat itu, Husna terlihat amat bahagia. Nampaknya, ketertarikannya kepada pemuda itu tidaklah bertepuk sebelah tangan. “Permulaan yang baik,” gumanya lirih.

 

* * * * *

Sebetulnya, banyak hal yang ingin Rizki tanyakan kepada ketiga temannya. Namun selalu ia urungkan. Terutama tentang kebaikan-kebaikan mereka yang menurut Rizki sulit ditemukan di masa-masa seperti ini. Termasuk, diskusi-diskusi di ruang dalam yang ia dengar sayup-sayup tiap malam. Belum lagi penghantar pakaian yang selalu datang pada malam hari; kamar berukuran besar yang selalu dikunci bila keluar atau masuk; hingga ketidakseriusan mereka dalam menjual pakaian. Bagaimana tidak, kadang mereka tidak berangkat sehingga ia sendiri yang berjualan. Sementara, mereka istirahat di musholla atau masjid. Memang tidak merugikan dia, karena keuntungan tidak dibagi rata, tapi dihitung sendiri-sendiri. Namun demikian, hal itu menambah keganjilan-keganjilan dalam hati Rizki.

 

* * * * *
Sepulang ngaji, Rizki tampak gelisah. Entah apa penyebabnya. Yang jelas bukan karena dagangannya tidak laku, siang tadi.

“Riz, lihat CD lagi yuk,” ajak Hasan yang mengagetkannya.

“Ayo. Tapi jangan yang rekaman bunuh membunuh, ya. Aku ngeri melihatnya.”

” Iya, dah… Yang ini kamu pasti senang, cerita pejuang kenamaan Mesir, Hasan al-Bana.”

Memang sejak tinggal bersama mereka, Rizki sering diajak nonton CD berisikan rekaman-rekaman perang Palestina, Afganistan, Irak, kerusuhan Poso, perjuangan Abu Sayyab di Filipina selatan, pengeboman gedung WTC di Amerika, dan masih banyak lainnya. Yang membuat Rizki tidak kuasa melihat adalah rekaman orang-orang muslim yang dengan sadis dibunuh oleh kaum Salibis. Tidak jarang, disela-sela nonton bareng itu, Rizki mendengar teman-temannya mengutuk dan melaknat tindakan para Zionis. Semua itu semakin membuat Rizki tidak tenang. Jangan-jangan… Ah… Rizki menahan diri untuk tidak su’udzon.

Usai sudah pemutaran film Hasan al-Bana. Bersamaan dengan langkah Rizki ke kamar depan, ada suara mobil di luar. Pasti tamu ketiga temanya atau penghantar baju itu yang datang. Setelah menyalami ketiga temannya itu, Rizki pamit untuk tidur duluan. Dia bergeming saat mereka mengajak ngobrol bersama.

Sebelum Rizki tidur, entah mengapa dia berencana untuk pulang besok, meski masih sepuluh hari ia disini. Rizki makin merasakan keganjilan-keganjilan yang belum ada jawabanya. Dia jadi teringat orang tuanya, adik-adiknya, dan terakhir… Husna. Ya, Husna Alinda. Dia sangat ingin menjalin hubungan lebih erat dengan gadis itu. Betul kata orang: Johan, jodoh ada ditangan Tuhan. Ia harus mencobanya.

 

******
“Semua penghuni rumah nomor 05 menyerah! Rumah kalian telah dikepung! Keluar dengan tangan di kepala, atau kami akan melepaskan tembakan!”

Suara dari jarak kira-kira 50 meter itu sontak mengagetkan Rizki. Ia masih sempat melirik jam dinding. Pukul 03.15 WIS. Tiba-tiba, seseorang mengaku bernama Hasan, yang mana Rizki belum pernah mengenalnya, masuk ke kamarnya, memakai baju aneh penuh kabel dan alat-alat elektronik.

“Ini, bawa! Kita lawan toghut–toghut di luar itu,” kata Hasan sambil melemparkan bedil laras panjang yang seumur-seumur, baru kali ini ia melihatnya.

Sesaat kemudian…

“Dor… dor… dor… blammm…” Semua menjadi gelap. Gelap sekali.

 

*****

(Ilustrasi) Sumber foto: tempo.co

Pagi harinya, masyarakat tercengang. Belum tahu apa yang terjadi. Yang mereka tahu, tadi malam, semua penghuni rumah disekitar kontrakan itu dievakuasi mendadak.

Jam menunjukkan pukul 09.00 WIS. Ada tiga mayat yang masih agak utuh dikeluarkan dari reruntuhan rumah, sedangkan empat lainya hancur. Kru TV lokal mulai berdatangan. Kuli tinta bahkan mencium peristiwa itu semenjak pagi. Ratusan aparat sibuk menertibkan kerumunan masa yang sebetulnya sudah dipasangi tali kuning.

Diantara kerumunan itu, tampak seorang gadis menangis tersedu sambil meremas erat sepucuk surat balasan, yang tak mungkin lagi sampai kepada yang dituju. Bukan seperti tangisan kebanyakan orang, melainkan tangisan seribu makna. Sayatan dan kepedihan itu hanya bisa disamai oleh keluarga miskin nan jauh disana. Hanya dia yang tahu fakta sesungguhnya. Kendati demikian, fakta itu harus dia simpan. Sia-sia bila ia membukanya. Sampai ia kelak menjadi saksi dikehidupan berikutnya.

–TAMAT–

 

* Penulis: Gus Zahro Wardi, pengasuh PP. Darussalam, Sumberingin, Karangan. Cerpen ini pernah diterbitkan di majalah Misykat, Lirboyo. (Dzul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *