Deja Vu Sowan Lebaran di Tengah Pandemi

Oleh: Muhammad Choirur Rokhim*

sungkem lebaran ke orang tua di desa nutrenggalek

ESAI – Pandemi Virus Covid-19 menggegerkan dunia. Negara-negara di dunia mengurangi aktivitasnya untuk memutus rantai penyebarannya. Di Timur Tengah sampai meniadakan aktivitas kunjung ke Tanah Suci Makkah. Tidak sedikit juga yang menerapkan lockdown. Negara-negara berperang melawan virus ini. Indonesia pun demikian: semua dituntut untuk mematuhi protokol kesehatan yang dihimbau oleh pemerintah demi melawan pandemi corona ini.

Semenjak pemerintah pusat yang diwakili Presiden Indonesia, Joko Widodo, mengumumkan kasus virus Covid-19 pertama di Indonesia, hampir semua kegiatan harus mengedepankan protokol kesehatan, dan dikerjakan d(ar)i rumah: belajar di rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah. Tatanan perekonomian, sosial, budaya, pendidikan, hingga ritus keagamaan pun berubah. Semua dilakukan #dirumahsaja dengan menjaga physical distancing, cuci tangan secara berkala, dan menggunakan masker jika mengharuskan untuk keluar rumah.

Hingga jauh sebelum PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diberlakukan, beberapa masjid telah mengimbau untuk melaksanakan beribadah di rumah masing-masing. Alasannya jelas: demi memutus rantai penyebaran Covid-19. Alhasil, masjid mulai sepi dari kegiatan dakwah, ibadah, dan sosial. Hingga memasuki lebaran, pagebluk atau pandemi ini belum juga menunjukkan tren penurunan.

Lebaran identik dengan berkumpul dan silaturrahmi antarsesama, keluarga, sahabat, teman, kolega, dan menikmati hidangan bersama-sama. Kebahagian bagi orang dewasa dan bocah terpancar. Orang dewasa suka ria menghias rumah dan masjid dengan ornamen-ornamen khas lebaran. Bagi bocah, lebaran itu bepergian, makan enak, mendapat sangu (angpao), bermain dengan teman-teman di tempat hiburan, mendapat duit, dan lain-lain. Lebaran memiliki kenangan indah.

Namun perayaan Idul Fitri itu direnggut kenestapaan. Lebaran terasa hambar, sepi. Omah-omah pada sepi, ora ana sing ngambah krana ora ana seng sowan. Bahkan banyak yang melakukan gerakan tutup pintu, memberlakukan PSBB demi menekan persebaran pagebluk yang tak kasat mata ini. Corona telah berhasil mengubah pola hidup manusia, juga berhasil merenggut kebahagiaannya.

Tahun ini  kita merayakan Idul Fitri di tengah keterbatasan, berjarak, serta jauh dari sentuhan kasih sayang, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sejak awal pemerintah sudah mengeluarkan “fatwa” melarang mudik dan mengurangi kegiatan yang menimbulkan kerumuman massa. Bahkan silaturahim—sungkem dan berjabat tangan—dilaksanakan dengan cara virtual: video call atau sebutan lainnya.

Mengingat perayaan lebaran seperti ini, saya seolah ingin ber-“dejavu”, dan boleh dianggap mengigau. Bahwa ingin rasanya mengulang perayaan lebaran ini. Sebab Idul Fitri ini terasa sepi dan berat bagi orang-orang di perantauan dan orang-orang di desa. Banyak orang yang tak menziarahi tanah kelahirannya. Terlebih bagi bayi-bayi yang lahir di tahun ini. Ia tak bisa “debut” mendapat sangu dari sanak famili.

Lebaran tahun ini memang lebaran yang tak mengesankan tapi penuh makna. Perayaan lebaran tidak sehangat dan semeriah tahun sebelum-sebelumnya. Jadwal silaturahim dan sowan kepada tetangga diurungkan. Bahkan ke guru-guru dan kiai-kiai, tak kami lakukan. Hal demikian untuk melindungi dan menjaga kiai-kiai dan guru-guru yang kami sayangi.

 

Tradisi Sowan

Sowan merupakan istilah yang biasa digunakan santri untuk menyebut kegiatan menghadap kiai atau alim ulama dan guru. Biasanya santri berkunjung kepada kiai dengan harapan mendapatkan petunjuk atas sebuah permasalahan, mengharapkan doa dari kiai, atau sekedar bertatap muka silaturahim saja.

Perihal silaturahim itu sudah dianjurkan oleh Rasulullah Saw, bahwa bersilaturahim dapat menjadikan umur dan rezeki bertambah panjang. Sowan dapat dilakukan oleh santri secara individu atau bersama-sama. Seorang kiai akan menerima para tamu dengan lapang dada.

Di momen Syawal atau Idul Fitri ini, mereka yang sowan tidak hanya para santri atau murid saja. Warga dari luar desa pun sowan ke rumah kiai atau guru. Mereka datang dengan harapan mendapatkan berkah dari kealiman seorang kiai. Selain itu juga ingin mendengarkan wejangan dan petunjuk. Oleh kebanyakan masyarakat awam, istilah ini disebutkan sebagai tabarukan, yang bermakna mengharap berkah dari kiai yang mustajab karena kezuhudan dan kealimannya.

Bagi orang luas, terutama bagi orang muslim yang notabene masyarakat pesantren, tradisi sowan sudah melekat. Tradisi sowan ini ada sejak lama, turun temurun, dan berlangsung hingga sekarang. Bagi santri maupun masyarakat, bisa mencium tangan kiai merupakan suatu keberkahan. Setelah mencium tangan kiai dan ber-muwajjahah dengannya semua, hati dan pikiran menjadi adem, tenang, dan damai. Seolah permasalahan di depan pasti akan teratasi. Semua itu berkat doa orang tua dan kiai.

Namun hal itu berbeda di bulan Syawal ini. Sowan ke rumah kiai tak bisa seleluasa seperti yang biasa kami lakukan. Tradisi-tradisi di pesantren saat Ramadan tak bisa dilakukan. Karena mayoritas santri dipulangkan sebelum Ramadan. Bahkan pondok-pondok (pesantren) di Trenggalek terpaksa memulangkan santrinya karena keterbatasan sarana dan prasarana yang memadai untuk menerapkan protokol kesehatan.

Jelas ini menjadi kesedihan jamak orang. Lebaran tahun ini seolah dirajam perih. Lebaran yang mestinya gayeng direnggut kenestapaan. Dina Riyaya yang lumrah diisi dengan bersimpuh di pangkuan orangtua dan mengusir kerinduan bersama, serta sungkem kepada kiai dan guru-guru, akhirnya cukup ditebus dengan isak tangis lewat video call. Pagebluk Corona merusak tatanan tradisi, juga menyiksa batin manusia.

Pagebluk Corona telah membatasi ruang gerak serta interaksi sosial kita. Semoga, di balik situasi fisik yang sepi ini, sejatinya tersimpan situasi batin yang ramai mengagungkan nama-nama-Nya serta tetap merawat silaturahmi dengan sesama dan para guru dan kiai kita. Semoga mereka semua selalu diberi kesehatan dan keselamatan dunia akhirat. Amien.

 


Artikel lainnya dari penulis: Pentingnya Nadlatul Ulama Menguasai Media Sosial


* Kolumnis nahdliyyin dari Watulimo, Trenggalek.

One Reply to “Deja Vu Sowan Lebaran di Tengah Pandemi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *